Thursday, February 12, 2009

Bila Suami Alumni STPDN

Makanya, jadi bini alumni STPDN Sumedang harus siap baju pengaman. Kalau tidak, nasibnya ya seperti Ny. Mulyati, 27, dari Semarang ini. Baru 3 tahun jadi bini Darmaji, 30, sudah kenyang gebuk dan pukul. Masalahnya, alumnus STPDN 2003 itu memang emosian, setiap dikritisi soal kegiatan selingkuhnya, langsung plag-pleg main tempeleng. Lama-lama tubuh Mulyati yang ayu itupun jadi momrot ora kalap (rusak).

Alumni sekolah pamongpraja di Jatinangor satu ini memang bangor. Soalnya, meski Mulyati istrinya cukup cantik di kelasnya, masih juga dia suka menebar pesona. Matanya jelalatan mencari barang yang lebih bagus. Dan Darmaji sendiri memang cukup tampan, maka banyaklah gadis yang terlena oleh kerlingan matanya. “Jadi bini calon camat, kenapa tidak?” begitu sikap gadis yang dipacari Darmaji.

Memang, karier camat sangat menjanjikan. Jika nasibnya bagus, dari camat bisa jadi gubernur. Di Jakarta misalnya, seorang lurah di Tanjungpriok, Harun Alrasyid, pada ujung kariernya bisa menjadi gubernur di NTB. Padahal kalau sudah kelas gubernur, bila presiden berkenan menjadi menteri tinggal selangkah saja. Itu bisa dilihat dari perjalanan karier Supardjo Rustam, dari Gubernur Jateng menanjak jadi Mendagri 2 kali dan akhirnya menjadi Menko Kesra.

Apa lagi ketika camat masih diberi kewenangan menjadi PPAT (Pejabat Pembuat Akte Tanah), kantongnya tak pernah kering. Setiap ada orang jual beli tanah, termasuk pembebasan lahan berhektar-hektar, Pak Camat akan menjadi raja uang. Belum upeti-upeti dari lurah/kades bawahannya, semakin mempertebal kantong Pak Camat. Tinggalah Bu Camat-nya yang kemayu, ke sana-kemari shoping melulu.

Kelebihan-kelebihan seperti ini yang membuat sejumlah wanita mau dipacari Darmaji. Padahal bagi calon camat ini, pacaran lagi setelah berkeluarga sekedar difersifikasi “menu” dalam rumahtangga. Kasarnya, sekedar membunuh kejenuhan. Setelah di rumah ketemu sayur “kencing kudak” (baca: sayur asem) melulu, di luar mencoba menu sambel goreng ati atau tengkleng Solo.

Urusan beginilah yang tak disukai Mulyati selaku istri Darmaji. Jika sudah berumahtangga, apapun wujud istrinya, ya ke situlah segala cinta ditumpahkan. Jangan sampai mendua, apa lagi membagi-bagikan cintanya pada perempuan lain. Bukankah para orangtua selalu memberi petuah untuk anak cucunya sebelum menikah? “Yen wis duwe bojo, merema sing dipet (bila sudah punya istri, tutuplah matamu rapat-rapat),” begitu kata para leluhur.

Rupanya Darmaji lupa kotbah nikahnya Pak Penghulu ketika menikah dulu. Buktinya ya itu tadi, meski Mulyati sendiri cantik dan berkulit putih bersih, masih juga lirak-lirik wanita lain. Setiap melihat barang mulus bebas dempul, jakunnya langsung turun naik bak bandul timba. Darmaji kemudian membayangkan betapa asyiknya kelon dengan perempuan itu. Dan berkat karier dan tampangnya yang kinclong, ada saja wanita yang bertekuk lutut dan berbuka paha untuknya.

Istrinya tentu saja selalu makan hati, sampai badannya kurung kering memikirkan ulah suaminya. Kalau saja tak ingat pada si upik yang sudah usia 1,5 tahun, ingin rasanya Mulyati undur diri sebagai istri Darmaji. Tapi dia tak mau anak-anak jadi korban. Si upik tidak salah, dia lahir bukan kemauannya. Dia ada dunia ini hanya sekadar dampak ayah dan ibunya yang “iseng” karena tak tahan dingin di tengah malam.

Namun Mulyati memang apes. Teguran halus atas kelakuan suaminya selama ini, tak pernah mempan. Tapi giliran istrinya berkata kasar sedikit, Darmaji langsung menunjukkan eksitensinya sebagai mantan praja di STPDN Sumedang itu. Wanita lemah itu ditempeleng, ditendang, macam Darmaji ketika memperlakukan adik kelasnya di STPDN dulu. “Bekas alumni STPDN kok dilawan,” begitu kira-kira kata Darmaji sambil mengamang-amangkan tinju macam Muhamad Ali di atas ring.

Digebugi, ditendangi hampir setiap hari, mana Mulyati betah. Dia pun lalu mengadu ke Pengadilan Agama, Semarang. Tekadnya sudah bulat, pengin cerai saja dari suami yang cengkiling (suka main pukul) itu. Tapi ketika Darmaji diperiksa selaku tergugat, dia membantah telah menganiaya istrinya. Kalaupun ada pemukulan, itu sekadar usaha pendisiplinan diri, karena Mulyati sering lalai dalam menjalankan kewajiban rumahtangga.

Uuuh, memang pintar Darmaji cari alasan.

No comments:

Post a Comment