Monday, February 2, 2009

"Olahraga" Bersama Pembantu

Kalau ada yang bilang lelaki itu seperti kucing, agaknya ada juga benarnya. Setidaknya untuk Daljono, 46, warga Semarang (Jateng). Di rumah sudah ada istri yang cantik, kok masih juga ngeloni pembantu. Ketika istrinya pergi, guru olahraga ini lalu mengajak Kasmi, 18, TKW domestiknya "olahraga" di ranjang. Saat pembantunya hamil, janjinya mau mengganti rugi Rp 35 juta, tapi ternyata hanya wacana dan retorika belaka.

Enak sebetulnya nasib Daljono sebagai kaum lelaki. Sebagai PNS, dia berprofesi menjadi guru olahraga di SMP. Sebagai kepala rumahtangga, dia memiliki istri yang cantik dan setia. Pintar mengatur belanja, bergaul baik dengan masyarakat sekitarnya. Karenanya orang suka ngalem (memuji) Daljono, mujur betul dia beristrikan Ratih, 42. "Andaikan itu sebuah kendaraan, aku mau kok tukar tambah," kata para tetangga.

Padahal, buat Daljono sih, biasa-biasa saja. Biar cantik putih bersih, karena tiap hari menunya itu melulu, ya ibarat orang makan ketemu sayur asem terus. Bosen. Pengin sebetulnya dia ada diversifikasi menu, setidaknya lalu mengikuti jejak Puspo Wardoyo. Tapi sebagai pegawai negeri, kan tidak boleh berbini dua. Lagi pula, gajinya jelas tidak mencukupi untuk mengasapi dua dapur sekaligus. Dus karena itu, biar hanya "sayur asem" ya harus dinikmati dengan senang hati.

Untuk membantu istrinya agar tidak kecapekan sebagai ibu rumahtangga, Daljono sejak 6 bulan lalu mengambil TKW domestik alias pembantu di rumahnya. Dia sengaja mengambil pembantu yang asal sekampung. Selain untuk memudahkan pengawasan dan pengamanan, Daljono juga ingin agar posisi "putra daerah" tak hanya diduduki oleh calon bupati dan gubernur. "Apa salahnya babu juga putra daerah, yang penting dia bisa diterima semua pihak," katanya saat meyakinkan pada istrinya.

Nah, jadilah Daljono mengambil TKW domestik tanpa melalui fit and properties, apa lagi persetujuan dewan, karena ini juga mutlak hak prerogatip dia sebagai presiden rumahtangga. Dan pilihan Daljono tidak meleset. Kinerja TKW domestik bernama Kasmi ini memang bagus. Dia tahu bagaimana melayani keluarga majikan. Dia sadar akan fungsnya sebagai pelayan dalam rumah tangga, bukan malah minta dilayani.

Celakanya, sebagai pembantu kenapa Kasmi ini berwajah cakep. Kulit juga putih bersih sebagaimana istrinya, bodi seksi menggiurkan. Tinggi sekitar 160 cm, berat badannya kira-kira 55 Kg netto, tanpa sepatu, baju dan dalemannya. Hanya ibarat buah-buahan, jelas Kasmi menang renyah, ada asem-asemnya sedikit, sehingga cocok sekali buat rujakan. "Memangnya kamu mau lotisan, Bleh? Silakan saja, biar pembantu kan yang penting rasanya, Bung!", kata setan mulai mengompori Daljono.

Andaikan mau jujur, sejak lihat pertama si Kasmi pendulum pak guru olehraga ini memang langsung kontak. Dia ingin sekali bisa menikmati "menu" baru yang bebas formalin itu. Dan sesuai dengan petunjuk bapak setan, Daljono pun mencoba mendekati pelan-pelan. Ketika istrinya bersama ibu-ibu PKK tetangga ke villa di Bandungan selama 2 hari, dia justru nyetel VCD porno saat Kasmi ngepel ruang keluarga.

Kasmi langsung terpana menyaksikan pemandangan yang jarang ada itu. Melihat TKW-nya menggeliat-menggeliat, Daljono segera memanfaatkan peluang itu. Kasmi langsung dibimbing ke ranjang. Awalnya menolak, tapi karena majikannya nyosor terus, dia tak bisa menolak. Walhasil, siang itu pak guru olahraga ini berhasil mengajari "senam istimewa" bagi pembantunya. Awalnya Kasmi mringis (kesakitan), tapi akhirnya mrenges (senyum). Kasmi kemringet, Daljono gemrobyos (mandi keringat).

Mulai saat itu, Daljono punya menu cadangan. Asal bini pergi Kasmi langsung ditarik ke kamar. Begitu selalu yang terjadi. Ironisnya, ibarat ban cadangan, justru ban serep itu yang sering dipakai sampai nyaris gundul. Entah berapa kali mereka berbuat, tahu-tahu perut pembantu itu melembung. Keluarganya tentu saja menuntut. Atas desakan Pak RT-nya di Ungaran tempat tinggal Daljono, dia siap menikahi TKW-nya tersebut. Repotnya, Kasmi tak mau disiri dan Ratih istrinya juga rak mau dimadu.

Agar semuanya enak, keluarga Kasmi akhirnya siap tak dinikahi asalkan diganti rugi Rp 35 juta. Bu Ratih memilih opsi ini. Hanya saja, karena Rp 35 juta bukan uang sedikit, hingga jatuh tempo perjanjian istri Daljono tak bisa memenuhi. Lantaran sudah dilobi tetap saja janji itu hanya wacana dan retorika belaka, terpaksa keluarga Kasmi mengadu ke Polres Semarang.

Habis enak-enakan, akhirnya Daljono pusing sendiri.

Ponakan Buat Penakan

Akal dan moral Bardi, 47, rupanya sudah terlanjur jebol, sehingga tak tahu lagi batasan malu. Kalau tak puas lagi pada “pelayanan” bini di rumah, kan masih bisa cari kepuasan di luar. Lha kok dia malah menelateni Rini, 18, ponakan sendiri buat penak-penakan, mentang-mentang bisa gratis. Padahal, akibat petualangannya itu Bardi harus mendekam di sel polisi karena Rini ternyata hamil.

Tingkah polah Bardi sebagai lelaki memang memalukan, nyaris seperti kambing bandot saja. Mbak-mbeeeek maunya kawin melulu. Istri di rumah sampai capek rasanya mengimbangi libido suaminya yang terlalu tinggi. Coba bayangkan, setiap hari dia minta dilayani, bila bini menolak pasti nyap-nyap. Mending kalau hanya membanting pintu, banting istri pun bagi Bardi bukan masalah.

Istri Bardi sebetulnya cantik, tapi karena dijadikan budak nafsu suaminya, dia menjadi kurus kering macam grinting welut (belut yang dikeringkan).Kerut-kerut di wajahnya semakin banyak, sementara dadanya yang dulu penuh menantang, kini sudah seperti buah papaya yang kena penyakit. Apa lagi betisnya yang dulu mbunting padi, kini kurus menulang, mirip kaki manuk blekok mencari precil di sawah.

Karena kondisi bininya yang begitu, belakangan Bardi jadi kurang selera. Celakanya, dia kemudian mencari sasaran lain. Bukan pacaran lagi, melainkan mengincar ponakan sendiri, Rini, yang selama ini tinggal bersamanya. “Kalau ban, ini jenis radial Bleh, daya cengkeramnya luar biasa,” kata setan membujuk Bardi.

Asal tahu saja, gadis Rini memang cukup cantik di kelasnya. Kulitnya putih, mirip buliknya. Bodinya juga sekel nan cemekel (enak dipegang). Kalau boleh pinjam nama artis, Rini ini adalah sosok yang berwajah Desy Ratnasari, tapi berbodi Tika Panggabean. Pendek kata, enak dikekepi dan perlu!

Hari naas bagi Rini dimulai ketika buliknya pergi. Bardi yang sudah lama mengincar, merasa dapat peluang emas. Ponakan yang cantik itu pun lalu didekati, dirayu-rayu agar mau meladeni aspirasi arus bawahnya. Tentu saja Rini kaget setengah mati, masak pamannya begitu. “Rika aja kaya kuwe lik, inyong wedi diomehi bulik (Palik jangan begitu, saya takut dimarahi bulik), kata gadis yang tinggal di Jalan Pahlawan, Purwokerto (Jateng).

Iman Bardi memang terlanjur rontok, setelah setan gencar membujuk dan mempengaruhi. Bila negara adi kuasa bisa mengembargo ekonomi negara kecil, Bardi pun mengembargo Rini melalui jalur pendidikan. Katanya, bila tak mau melayani nafsunya, Rini takkan dibiayai lagi sekolahnya. Padahal cari kerja modal ijazah SMP paling-paling jadi pembantu, atau buruh pabrik.

Diembargo sekolahnya, lalu jadi pembantu atau buruh pabrik, memang sangat mengerikan bagi Rini. Dengan sangat terpaksa dia menyerahkan kegadisannya pada paman yang celamitan tersebut. Maka kejadian selanjutnya, Rini mringis kesakitan, tapi Bardi mrenges keenakan. Dia memang sudah tak peduli lagi dengan tatanan moral, biar ponakan apa salahnya buat penak-penakan.

Orang bila sedang dikuasai setan ya begitu itu, bawaannya pengin begituan melulu. Sekali dilayani, Bardi menjadi ketagihan. Lain waktu asal situasi di rumah cukup mantap terkendali, dia kembali mengajak Rini berpacu dalam birahi. Ancaman klasik selalu diberikan setelah terpuaskan hajatnya. “Jangan cerita ke mana-mana, ikuti pesan-pesan berikut ini,” begitu katanya seperti iklan teve saja.

Lima atau delapan kali sudah Bardi menodai ponakan sendiri, tak ada angka pastinya. Yang jelas, cukup seringlah. Kerena hal itu pernah dilakukan di masa subur, maka akibatnya perut Rini pun menggelembung berisi janin yang sudah berusia 6 bulan.Tentu saja buliknya bingung, kenapa ponakan bisa hamil sedangkan setahunya Rini tak punya pacar.

Awalnya ketika didesak buliknya Rini membisu saja. Tapi karena siang pagi sore selalu ditanyakan soal perutnya yang halim non PK itu, lama-lama Rini pun tak tahan. Dia lalu menyebut nama Bardi, ya pamannya sendiri. Buliknya terpekik kaget. Tapi habis itu segera melaporkan suaminya ke Polres Purwokerto. Tak perlu lagi klarifikasi segala, karena istri Bardi ini sudah hafal akan kelakuan suaminya.

Tobat Tomat Bekas

Istri yang baik adalah istri yang menurut pada titah dan perintah suami. Tapi jaman sekarang, ya lihat-lihat dulu suaminyalah. Jika memang sadar akan segala hak dan tanggungjawabnya, suami model begitu pantas dianut. Tapi kalau modelnya Nendra, mana bisa? Jadi bini kedua hanya dieksploitir seksnya, sementara hajat kebutuhan seorang istri tak dipenuhi. Nendra ternyata memang lelaki egois.

Nendra kenal Saryati setahun lalu, ketika dia mulai mengenal seks di luar rumah. Meski di rumah “menu”-nya selalu terjamin dan dijamin empat sehat lima sempurna, dia mencari kepuasan di luar rumah, tepatnya di kompleks WTS Rawamalang, Cilincing. Saryati terhitung cantik di sana , dan Nendra jadi langganan. Pelayanannya kok enak, akhirnya lelaki ini ketagihan dan pingin menjadikannya simpanan.

Dengan mengatasnamakan moral dan meningkatkan derajat kaum wanita, Nendra ingin mengawini Saryati. Tapi sejak itu bekas WTS tersebut tak boleh lagi menggelar prektek. Urusan seks kemudian menjadi monopoli dan tergantung pasokan dari suami. Yang penting Saryati duduk manis di rumah, dapat jatah duit bulanan. “Jadi istriku kamu enak, dijamin selamanya. Jadi WTS itu apa, paling 5 tahun lagi sudah nggak laku,” nasihat Nendra.

Usaha meyakinkan Saryati berhasil, buktinya dia mau meski sudah tahu Nendra di rumah punya keluarga. Beberapa minggu kemudian mereka menikah siri, dan sejak itu Saryati jadi “kendaraan” sah Nendra meski tanpa STNK dan BPKB. Kapan saja si lelaki ini butuh, sudah bisa dilayani Saryati tanpa bayar. Cuma sebulan sekali Nendra memang harus memberi jatah bulanan.

Akan tetapi Nendra punya bini dua hanya kuat di onderdil bukan materil. Di zaman serba mahal begini, masak sebulan hanya dipasok Rp 500.000,- Sedangkan kebutuhan Saryati tentu saja banyak. Setiap dia minta penambahan anggaran tak digubris, bahkan bini keduanya dianggap perempuan pemboros. “Ya kalau mau irit, beli saja kalender, cuma Rp 25.000,- setahun baru habis,” kata Saryati kesal.

Tak pernah terbayangkan memang, kehidupan seperti ini. Sewaktu jadi WTS dia selalu pegang uang dan bisa pegang-pegang. Lha sekarang? Ah, Saryati mendadak jadi rindu kembali pada kehidupan lamanya. Maka diam-diam dia kembali menggeluti profesi lamanya, yakni “bergelut” dengan setiap lelaki dengan imbalan sejumlah uang. Walhasil tobatnya Saryati hanya tomat saja, tobat-robat tapi kumat, karena memang nikmat.

Inkam pendapatan Saryati memang kembali normal sejak praktek lagi di Rawamalang. Lama-lama Nendra jadi tahu. Di samping dia melihat Saryati punya duit banyak lagi, kalau pulang selalu malam hari. Pernah dia marah-marah, tapi Saryati tak menggubris. “Kamu juga gombal sih. Katanya kalau berhenti jadi WTS mau dicukupi semuanya. Mana buktinya?” protes Saryati menelanjangi suaminya.

Kelanjutannya Nendra jadi masa bodoh. Duit semakin jarang memberi, malam hari juga jarang mengencani. Nendra memang jadi jijik pada bini keduanya ini, dan kembali asyik pada bini pertamanya. Hal ini rupanya juga bikin sakit hati Saryati, karena merasa tak dipedulikan lagi. Maunya dia, diceraikan sajalah, jadi biar jelas statusnya. Jangan hanya digantung begini.

Agaknya lelaki warga Cilincing ini tak tahu dendam menumpuk di dada bini keduanya. Beberapa hari lalu pagi-pagi dia minta dibuatkan mie goreng. Saryati memang beli minyak goreng ke warung. Tapi ternyata bukan untuk bikin mie melainkan hanya dipanasi saja. Begitu minyak tersebut mendidih langsung disiramkan ke tubuh suaminya. “Makan nih mie goreng, jadi lelaki mau menang sendiri,” omel Saryati.

Haduuuuh, haduuuuh……” pekik Nendra kesakitan. Dia mbanyaki karena badannya melepuh disiram minyak goreng panas. Sementara tetangganya membawanya ke RS Tugu, Koja, Saryati malah minggat entah ke mana. Tapi hatinya puas, berhasil membalas sakit hatinya. Yang paling penting lagi, dia bisa kembali “goyang” sambil mencari uang.

Sambel Penguji Selingkuh

Orang gila ngkali si Herdian, 30 tahun, dari Karanganyar (Sawah Besar), Jakarta Pusat ini. Menguji kebenaran kan bisa lewat sumpah pocong atau Quran, tapi dia malah pakai sambel. Bayangkan, hanya pengin membuktikan istrinya tak main selingkuh, kemaluan Ny. Watik, 27 tahun, langsung dimasuki sambel buat rujakan. Keruan saja sang istri kelojotan dan ngeses-ngeses kepedasan.

Herdian sebetulnya memang lelaki tak tahu diuntung. Pekerjaan tidak punya, tapi berhasil memiliki bini cakep, itu kan keberuntungan tiada tara . Namun dia tak mau mensyukuri nikmat itu. Bahkan, kecantikan istrinya sehari-hari hanyalah menjadi pemicu kecemburan semata. Setiap istrinya senyum-senyum dengan lelaki lain, selalu ditegurnya. “Nggak enak dilihat orang dong,” begitu kata Herdian sok morail.

Aneh memang si Herdian ini. Maunya dia, istri itu di rumah saja, tak perlu ngeloyor ke mana-mana, apa lagi juga bukan pegawai. Yang penting Watik di rumah masak, mencuci, dan malam “melayani” suami di ranjang. Katanya, buat apa ngobrol-ngobrol di rumah tetangga, hanya memancing timbulnya fitnah saja. Buang-buang enersi saja.

Tapi di rumah saja kan juga bete. Mau masak pun, apa yang dimasak, orang selama ini masih dalam tanggungan ekonomi mertua. Maklum Herdian ini meski statusnya kepala rumahtangga, tapi masih “nyusu” pada enyak dan babe. Kawin dengan Watik juga hanya modal titit doang. “Tapi kenapa saya dulu bisa jatuh cinta padanya, ya….,?” begitu keluh Watik selalu.

Ironisnya, meskipun menganggur Herdian tak mau berusaha mencari pekerjaan. Dia malah punya hobi baru, mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Duit dari orangtua mestinya untuk kebutuhan ekonominya, larinya ke bir cap topi miring. Maka bukan sekali dua kali, Herdian pulang diantar teman-temannya dalam kondisi tak sadar akibat kebanyakan bir.

Konyolnya lagi, mesti kerjanya jadi pengabdi minuman keras, Herdian masih ingat juga pemenuhan libidonya sebagai lelaki. Meski kewajiban, karena hak-haknya sebagai istri tak dipenuhi, Watik sering malas melayani. Kalau sudah begitu, tuduhan klasik pun dilemparkan. “Kamu selingkuh, ya? Sudah dapat kepuasan di luar ya?” begitu tuduh Herdian kasar sekali.

Apa yang menjadi tuduhan klasik kembali dilontarkan, beberapa hari lalu. Pasalnya, pulang-pulang mabok kok Herdian langsung mengajak menjalani sunah rosul. Tentu saja Watik ogah, di samping tak tahan dengan baunya minuman keras dari mulut suami. Dan seperti biasanya, orang mbok kan tak bisa mengontrol emosi. Maka kembali dia menuduh bininya sudah dapat kepuasan di luar rumah.

Hati Watik sakit sekali dituduh demikian. Keluar rumah juga hampir tak pernah, kok bisa-bisanya menuduh selingkuh. Ah lelaki memang mau menang sendiri, istri hanya dijadikan tiban dan kambing hitam. Maka katanya kemudian, “Kamu sendiri yang main selingkuh, ngaku saja. Jangan istri dijadikan tiban. Capek aku punya suami macam kamu….!”

Kaget juga Herdian, baru kali ini istrinya berani melawan seperti itu. Emosinya segera bangkit. Watik ditempelengnya pletakkk, hingga jatuh membentur tembok. Untuk kesekian kalinya sang istri diminta mengaku selingkuh. Karena Watik tetap menggeleng, Herdian lalu mencopot paksa CD istrinya, lalu sambel buat rujakan itu tanpa belas kasihan dimasukkan ke dalam kemaluannya. Tentu saja Watik kelojotan dan meraung-raung kesakitan.

Untungnya tak sampai menimbulkan komplikasi. Sementara suaminya peri entah kemana, Watik langsung ke Polsek Sawah Besar, melaporkan ulah suaminya. Dia minta pelaku KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) itu segera diusut tuntas. “Biar suami, aku rela dia dipenjarakan, Pak. Biar kapok….,” kata Watik di depan polisi.

Sopir Truk Nggragas

Sudah gemuk, pendek, item, doyan selingkuh; itulah kelakuan Kenthut, 40 tahun, dari Boyolali (Jateng). Bagaimana tidak? Sudah tahu Indri, 33 tahun, ini masih bini famili sendiri, lha kok “ditelateni” juga. Tapi untuk ke-nggragas-annya itu dia harus membayar mahal. Saat sopir truk pasir ini sibuk menyetubuhi bini Bagyo, 37 tahun, kepergok langsung oleh pihak berwenang (baca: suaminya). Segera saja dia ditarik dari ranjang, lalu dihajar bersama warga. Pak ketepuk, pak, gedebug, bresss!

Ini kisah perempuan kendho tapihe (rawan selingkuh). Kecantikan yang dimiliki Ny. Indri ternyata bukan hanya monopoli suami. Lelaki lain bila berminat dan pandai melobi, bisa saja menikmati tubuh mulus bodi seksi wanita dari Sumber Kecamatan Banjarsari, Solo tersebut. Padahal Bagyo suaminya juga cukup ganteng, pinter mencari duit lagi. Jadi apa sebetulnya yang kurang, sehingga Indri cari kepuasan di luar rumah?

Tapi namanya orang bermasyarakat kan hanya sawang sinawang (saling melihat) saja, tak tahu kondisi jerohan sesungguhnya. Seperti Bagyo misalnya, mesthi tampan dan pinter cari duit, tapi dia kurang mampu berbicara dalam percaturan ranjang. Dia menafkahi batin istri sekadar kewajiban saja, bukan lantaran hobi. Jadi pelayanannya sangat monoton, itu-itu melulu. Yang paling bikin Indri sebel, asal sudah terpenuhi kebutuhannya Bagyo memunggungi dan tidur mendengkur.

Ini yang sering membuat Indri tersinggung, sepertinya wanita hanya dibutuhkan untuk urusan begituan semata. Di ranjang mestinya selalu ada dialog, konsultasi, solusi, ada pencerahan dan keterbukaan, bukan sekadar buka-bukaan. Bagyo memang bukan lelaki romantis. Dia pikir wanita asal sudah dicukupi materi cukuplah. “Alah, wong wedok kuwi tugase rak ming mamah karo mlumah (perempuan kewajibannya kan makan dan melayani suami di ranjang),” begitu pendapat Bagyo.

Adalah Kenthut, warga Desa Tambung Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali. Sebagai sopir truk pasir, dia tak hanya tahu pasir urug, pasir kwarsa, pasir Tangerang dan pasir Galunggung, tapi juga tahu gelagat wanita yang harus asmara akibat cintanya yang mengering bak di padang pasir. Dari kaca mata lelakinya Kenthut tahu persis bahwa sebetulnya Indri bini familinya ini kesepian di tempat ramai, seperti ayam mati di lumbung padi.

Tak peduli bahwa Indri bini familinya, Kenthut mencoba menawarkan solusi. Di kala main ke rumah Bagyo, rayuan-rayuan kecil ala pulau kelapa dilancarkan. Lewat tembang Jawa ala ketoprak mataram, dia menyindir-nyindir kesepiannya Indri. “Bedhug tiga dhatan arsa guling, padhang bulan kekadhar neng latar, thenguk-thenguk lungguh dhewe (tengah malam tak bisa tidur, terang bulan bengong duduk sendirian di halaman),” kata Kenthut dalam sepenggal tembang Dandanggula.

Indri rupanya lumayan ngerti bahasa-bahasa sastra Jawa tinggi itu, sehingga tahu pula bahwa nada tembang itu diarahkan kepadanya. Dia senyum tersipu-sipu. Di samping merasa tersindir, Indri memang mengagumi suara bagus Kenthut. Rupanya orang gemuk pendek itu suaranya bagus. Sopir truk pasir ini memang suka loap-laop (nyanyi) mengikuti irama hati. Kaset di dashboard truknya saja isinya kaset-kaset Jawa melulu.

Kelanjutannya lebih seru. Bila situasinya aman terkendali, Kenthut suka mak-mek (pegang-pegang) tubuh Indri, khususnya di daerah nan rawan. Celakanya Indri hanya menepiskan secara lembut, sehingga bisa diartikan memberi peluang. Tentu saja si Kenthut jadi makin berani. Istri Bagyo ini digelandang ke kamar, lalu sebagaimana truk yang biasa dibawanya: di ranjang segera masuk perseneling satu, digas, pindah ke gigi dua dan tiga, digas lagi werrrr…. Kenthut-Indri sampai ke surga dunia!

Agaknya pelayanan supir truk ini memang luar biasa, buktinya Indri jadi ketagihan. Biar pendek item, tapi ngangeni. Maka lain hari dia mengacu system jemput bola, artinya: Indri yang mendatangi rumah kontrakan Kenthut yang sama-sama si Sumber. Di situ kembali keduanya berlaga, main persneling satu hingga empat, Kenthut menggeliat-geliat, sedang Indri merem melek biji matanya seperti mau loncat!

Hanya saja, asmara bawah tanah ini tak berlangsung lama. Bagyo yang curiga perilaku istrinya belakangan, diam-diam menguntit kepergian istrinya.Tahu-tahu kok masuk ke rumah Kenthut familinya. Ketika diintip, ya ampun, sopir truk itu tengah menyetubuhi Indri dengan nafsunya. Bagyo tentu saja emosi. Si gemuk pendek diseret dari ranjang dan dihajar. Sementara Indri melarikan diri, warga yang mendengar keributan itu mencoba melerai. Tapi begitu tahu duduk perkaranya, mereka malah berpastisipasi dalam gebuk. Untung saja polisi Polsek Banjarsari segera turun tangan.

Kakak Iparpun Berguna

Adam, 35 tahun, sebagai lelaki memang sangatlah luwes pembawaannya. Hidup dijalani dengan santai, mengacu prinsip: mana yang ada sajalah. Ketika pengin kelon sedang istri tak ada, bersama kakak iparpun jadilah. Sebab lelaki dari Subang (Jabar) ini setia pada pepatah lama: tak ada rotan akar pun berguna, tak ada pamajikan (istri), kakak ipar pun berguna…..!

Terus terang saja, sebetulnya Adam cukup lama mendendam asmara rindu pada Watik, 30 tahun. Ketika sama-masa masih lajang, Adam pernah naksir gadis tetangganya di desa Kaliaren Kecamatan Sukamandi itu. Tapi belum sampai aspirasi arus bawah itu dideklarasikan, Watik keburu dikawin lelaki lain. “Tapi enteu nanaon da masih loba piliheun di didituna oge (tapi nggak apalah, toh persediaan masih banyak di sana),” hibur Adam ketika itu.

Itu memang kenyataannya. Keluarga Watik cantik-cantik, putih-putih lagi. Jadi banyak alternatif. Lolos dari incaran pertama, anak ke-4 Pak Mahmud masih demikian menjanjikan. Putri idola bernama Dewi yang terpaut 10 tahun dengannya pun ditempel. Di sore hari naik mobil berdua, baju warna jingga sangat indahnya. Wahai adik cantik siapa punya, pastilah bangga yang jadi suaminya; begitu pantun rayuan Adam.

Kalimat pantun tersebut asal bunyi, tapi cukup menggambarkan aspirasi Adam. Nyatanya, Dewi langsung tahu ke mana arahnya. Setelah melalui pedekate (pendekatan) yang lumayan ulet, gadis bungsu itu jadi juga sebagai istri Adam. “Sagala rupa anu dipiboga hasil kujerih payah bakal meunang kabagjaan (segala sesuatu yang diperoleh lewat perjuangan memang indah dinikmati),” begitu kata Adam setelah sukses “mbelah duren ” di malam pertama bersama Dewi.

Akan tetapi, stok cinta Adam pada istri tak sebanding dengan stok rejeki yang diberikan Tuhan untuknya. Baru 5 tahun berumahtangga, ekonominya goyah lantaran pekerjaan seharinya hanya di PT. Tempo. Maksudnya, tempo-tempo bekerja, tempo-tempo nganggur. Padahal jadwal nganggurnya lebih banyak, sehingga untuk ngempani anak bini Adam sangat kerepotan, kalau tak mau disebut nyenen-kemis.

Habislah sudah barang-barang berharga di rumah, sementara neraca pinjaman di luar juga makin meningkat. Untungnya Dewi sebagai istri tidak hanya bisa mamah dan mlumah. Untuk membenahi ekonominya, dia ingin jadi TKW luar negeri, memburu ringgit di Malaysia . “Meunang ya kang kuring ninggaleun akang salila dua taun moal bakal paeh ieuh (boleh ya bang, “puasa wanita” selama dua tahun kan takkan mati),” kata Dewi saat memberi pengertian pada suaminya.

Jika ingat anaknya yang sering nangis kelaparan, Adam memang tak tega menolak usulan istri. Tapi jika ingat nasib “anak kandung” di dalam sarung, pusing juga sebenarnya Adam berlama-lama jauh dari istri. Jangankan 2 tahun, semalam tidur misah saja dia sudah tak bisa merem. Adam memang begitu cinta dan sayang pada bininya. Maklumlah, bersama Dewi semuanya bisa! Dan Dewi memang bisa diajak gaya apa saja.

Enak nggak enak, Adam terpaksa meluluskan istrinya berangkat jadi TKW. Dan sejak itulah, “kiamat kecil” terjadi. Biasanya, malam hari ada acara yang ditunggu-tunggu, kini bengong macam sapi ompong. Seminggu dua minggu Adam masih tahan, tapi ketika sebulan masih juga menjalani puasa panjang, kepalanya jadi kliyengan. “Sabulan kawas kieu komodeui salila dua taun nahan kahayang lila-lila jadi menyan (sebulan saja begini, dua tahun menahan rindu apa nggak jadi kemenyan)” keluh Adam.

Lalu otak kotornya pun berkecamuk. Adam ingat “obsesi”-nya dulu, yakni Watik yang kini jadi kakak iparnya. Kebetulan suaminya jarang di rumah karena kerjanya malam hari. Diam-diam dia mendekati wanita beranak tiga tersebut, dan terus terang saja dia minta “jatah” karena masa peceklik di rumah. Celakanya, Watik mengijinkan juga, karena suami juga jarang memasok. Jadilah program “simbiosis mutualis” (saling menguntungkan) itu berlangsung.

Ipar yang bernama Watik ini ternyata jago selingkuh juga. Buktinya, dia yang kemudian sering mengambil inisiatip. Beberapa hari lalu dia diajak suami ke rumah mertua, tapi sengaja pulang duluan. Jadi sementara suami ngobrol bersama orangtua, Watik di rumah indehoi bersama adik iparnya. Cuma kali ini sial, ketika keduanya sedang berpacu dalam birahi, diintip tetangga. “Lho lho adam naha nimpang helipad lain anu pernahna (lho lho, Adam kok mendarat di helipad yang bukan semestinya),” gumam si pengintip yang anti Bush juga.

Tak ayal lagi keduanya digerebek dan dibawa ke balai desa. Celana dalam dan kolor yang berantakan di ranjang dijadikan barang bukti. Ketika diperiksa Pak Kades, Adam mengaku sudah dua bulan selingkuh karena kesepian. Sedangkan Watik mau jadi “helipad” adik ipar karena apa ya, karena apa ya…..?

Alah ngaku saja, …… karena doyan, begitu!

Mata Keranjang Ketanggor

Sial banget nasib Panut, 40 tahun, tukang becak dari Yogyakarta ini. Mau nyelingkuhi bini tetangga kok tidak lihat cuaca. Akibatnya ya parah. Ny. Astin, 36, yang digodanya mengadu pada suaminya, sehingga Panut pun babak belur dihajar Yanto, 39 tahun, suami Astin. “Kalau tak ingat tetangga sendiri, tak idek-idek tenan nganti modar kowe (kalau tak ingat hukum, saya injak-injak sampai mampus kamu),” maki si tukang parkir yang baru sukses menghajar lelaki mata keranjang itu.

Astin dan Panut memang bertetangga di kampung Danurejan, Yogyakarta . Sama-sama tinggal di rumah kontrakan, sama-sama orang di bawah garis kemiskinan. Bagaimana tidak? Panut sendiri hanya tukang becak, sedangkan Yanto suami Astin juga hanya tukang parkir di komplek Kepatihan (gubernuran). Kalau pun ada perbedaan, paling-paling hanya peruntungan ketika memperoleh jodoh. Yanto bininya cakep, sedangkan Panut bininya jelek dan asal wedok (asal perempuan).

Yang beginilah yang suka membuat Panut “iri”. Sama-sama jadi orang miskin, tapi kenapa Yanto bisa memperoleh istri cantik? Ketutup apa mata Astin, sehingga mau jadi bini si tukang parkir? Padahal tukang parkir kan kerjanya kebanyakan makan asep knalpot. “Masih mendingan tukang becak, biar duitnya sedikit, tapi kan banyak genjotannya,” kata Panut menghibur diri.

Astin ini untuk ukuran rakyat jelata, memang termasuk cantik. Wajah menawan, kulit putih bersih, bodi seksi, berat badan 55 Kg, tinggi 160 Cm. Belum mandi pun sudah tampak cantik. Hal ini sering diperhatikan oleh Panut. Asal melihat bini tetangganya yang mirip artis Christi Jusung tersebut si tukang becak ini otaknya ngeres melulu. Andaikan Yanto tak keberatan, ingin dia rasanya tombokan (tukar tambah) bini.

Namun karena mata Panut terlalu agresip bak kucing lihat dendeng, lama-lama Astin juga tahu bahwa tukang becak tetangganya itu moralnya diragukan. Untuk itu asal papasan dengan Panut dia pasti mempertinggi kewaspadaan nasionalnya sebagaimana pesan pejabat Orba dulu. Pernah Astin sengaja diam ketika disapa, karena Panut mulai dengan kata nakal “mau ke mana Christi Jusungku”. Begitu tak dijawab, Panut pun berkata kasar: ayu-ayu kok budheg!

Kelanjutannya Panut makin agresip saja terhadap bini Yanto ini. Papasan di gang yang sepi usai beli sayur-mayur, langsung saja tangannya mendarat ke dada Astin. Ingin sebetulnya perempuan itu teriak, tapi karena takut jadi heboh dan malu sendiri, dia hanya bisa bersungut-sungut. “Awas, kuadukan suamiku tahu rasa kamu,” kata Astin tapi masih pelan dan terkontrol.

Akal dan emosi Astin memang masih tertata, sehingga ancaman itu pun sekedar gertak. Artinya, dia tidak benar-benar mengadu pada suami. Ternyata tak adanya reaksi dari kubu Yanto, membuat Panut makin ndlodog (kurang ajar). Lain hari tukang becak ini makin agresip saja menjalankan program porno aksinya. Pas Astin mau ke warung, dari belakang Panut menguntit. Begitu dekat pantat bini Yanto itu dicemolnya sambil bilang: wah, masih kentel juga…!

Tak ada ampun lagi kali ini. Astin benar-benar marah. Maka sore harinya sewaktu Yanto pulang dari kerja parkiran, skandal Panut itu diceritakan tuntas. Yanto naik pitam. Tapi untungnya, seperti bininya dia tak sampai meledak-ledak menghadapi persoalan ini. Diam-diam dia mencari Panut. Bukan untuk bikin perhitungan, tapi sekadar klarifikasi.

Ironis sekali si Panut ini. Pada Astin begitu berani, pada Yanto suaminya dia begitu penakut. Buktinya, mungkin karena merasa berdosa, baru lihat dari kejauhan saja dia sudah mencoba menghindar, persis tukang becak di Jakarta lihat petugas Trantib. Maka sejak itu Panut kucing-kucingan terus dengan Yanto, seperti pejabat korup dengan TPK (Tim Pemberantasan Korupsi).

Kayak apa pandainya tupai melompat, sekali jatuh juga. Hal ini dialami pula oleh Panut. Pas dia mbecak di daerah Lempuyangan hari Minggu, kepergok oleh Yanto dan istrinya yang baru naik angkot bareng. Astin yang melihat pertama kali “sang teroris”, segera memberitahukan suaminya. “Kecandak kowe saiki, tak juwing-juwing leganing atiku (ketangkep kamu sekarang, kuhajar sepuasnya nanti),” ancam Yanto.

Adegan dramatis segera terjadi di menit-menit berikutnya. Tukang becak yang gagal nggenjot bini tetangga itu babak belur dihajar Yanto. Orang-orang yang tadinya mau misah, malah ikut “berpartisipasi” nggebuk Panut begitu tahu duduk persoalananya. Dalam kondisi babak belur Panut diserahkan pada Polsek Danurejan. “Kalau tak ingat tetangga sendiri, tak injek-injek sampai mampus,” kata Yanto depan petugas.

Habis Panut ngawurnya kelewatan. Astin tak ngasih “lampu ijo” kok nerobos saja!

Makin Jauh Dari Harapan

Kasar sekali cara Darmin, 40 tahun, mendapatkan cinta seorang wanita. Gagal ditaklukkan secara wajar-wajar, lelaki dari Sukoharjo (Solo) ini lalu main paksa. Agar janda Fatimah, 32 tahun, mau dengannya, putri semata wayang sijanda diculik dan mau dijual. Tapi akibat tindakannya yang kelewat batas tersebut, Darmin justru jadi urusan polisi. Target mendapatkan Fatimah semakin jauh dari harapan.

Elok rupawan memang janda Fatimah yang punya warung soto di jalan raya Baki, Sukoharjo ini. Orangnya putih bersih, bodi seksi. Maka sesungguhnya, bila banyak pengunjung warung soto tersebut, bukan karena kelezatan sotonya, melainkan tertarik pada kecantikan pemilik warung. Perhatikan saja, yang numpang makan di situ kebanyakan kaum lelaki.

Lelaki kan begitu, kebanyakan tak tahan melihat jidat licin, termasuk milik janda Fatimah ini. Sambil makan soto, matanya langsir mencuri-curi pandang, menikmati wajah ayu pemilik warung. Pakai daster dan kerudung saja, nampak luwes. “Wih, aku punya bini dia, di rumah sarungan terus, deh….,” begitu batin para pelanggan warung soto Ny. Fatimah, ngeres-ngeres memang.

Orang berpikiran macam begitu, bagi Ny. Fatimah sudah jamak. Sepanjang itu hanya wacana batin, takkan menjadi masyalllah. Janda cantik ini sudah kebal. Bahkan sering pula, si pelanggan ketika menerima uang kembalian dari Ny. Fatimah suka nakal tangannya. Yang mencolek atau bahkan meremas jari jemarinya ada saja selalu. Maka jangan heran, setiap warungnya tutup, tangan Fatimah sering memerah karena kebanyakan diremas para sopir.

Namun yang paling aneh adalah Darmin, warga Mojosongo, Solo. Meski di rumah sudah ada anak istri, masih juga ikut berlomba-lomba dalam perebutan janda. Awalnya, kalau makan selalu tak mau dikembalikan kelebihan uangnya. Makan hanya habis Rp 10.000,- Darmini memberikan uang Rp 20.000,-an. “Yang lain pada buka dompet peduli Yogya, biar aku yang peduli dompet janda….,” katanya.

Yang namanya rejeki masa ditolak, begitu sikap janda Fatimah. Semula dia mengira Darmin ini hanya lelaki kelebihan duit, atau habis menang togel 4 nomer. Tapi lain waktu, dengan penuh rayuan lelaki ini mengajak jalan. Katanya, warungnya tutup sekarang saja, nanti berapa kerugiannya akan diganti. Duh, duh, Darmin mau jadi boss.

Untungnya Fatimah bisa menolak halus ajakan itu: oh enggak, enggak, begitu katanya. Tapi karena Darmin terus merayu dengan rayuan ala gombale mukiyo, diam-diam dia ingin tahu pula latar belakang sesungguhnya si Darmin. “Ja digugu mbak, Darmin kuwi wis nduwe anak loro (jangan digubris, dia itu sudah punya dua anak),” demikian kata sang informan.

Keruan saja informasi ini dijadikan kartu troof bagi Fatimah. Sewaktu Darmin kembali mengajak menikah, dia langsung bilang: lha satu istri dan dua anaknya di Mojosanga itu mau dikemanakan? Tapi dasar Darmin sedang kentir (gila), jawabnya enteng saja: lha megat bojoku pira wene (menceraikan istri apa susahnya).

Mendengar jawaban Darmin yang asal njeplak, Fatimah jadi tersinggung. Segatel-gatelnya jadi janda, tak mungkin merebut suami orang. Maka lelaki muka tembok tersebut lalu diusir dari warungnya. “Silakan pergi Mas, aku lebih baik kehilangan satu pelanggan model sampeyan, daripada harus menyakiti hati kaumku sendiri,” kata Ny. Fatimah.

Agaknya kata kasar Fatimah membuat Darmin jadi dendam. Dia lalu ingat anak semata wayang janda itu yang baru berusia 3 tahun. Dengan memperalat karyawati warung soto itu, bocah bernama Fitri berhasil dibawa kabur dan diserahkan pada Darmin. Rencananya, bocah itu mau dijual. Darmin berharap, setelah kehilangan anak semata wayangnya Ny. Fatimah pasti sutris dan menderita.

Hasilnya bagaimana? Sebagai penculik Darmin masih terlalu ijo. Puji, 21, karyawati warung soto yang mau diajak kerjasama itu langsung ngoceh begitu diperiksa polisi. Maka Darmin sebelum sempat menjual si Fitri sudah digelandang petugas ke Polsek Baki. Ketika diinterogasi polisi, jawab lelaki patah hati ini enteng saja. “Cinta ditolak, ya penculik bertindak toh…..?” katanya asal njeplak.

Sandiwara Suami Pemalas

Aneh betul kelakuan Oding, 27 tahun, dari Cilincing Jakarta Utara ini. Kerja males tapi bini maunya nambah. Maka ketika dia benar-benar beristri dua, kerjanya ya hanya “ngerjai” saja, sementara yang cari nakfah kedua istrinya. Tapi ketika Oding pura-pura jadi lelaki tuna daksa (cacat) agar ditolerir kemalasannya tersebut, ternyata ketahuan oleh kedua istrinya. Jadilah dia dilaporkan ke Polsek Cilincing.

Tugas lelaki dalam rumahtangga adalah mencari nafkah, meski untuk itu dia akan dapat imbalan nafkah batin dari istrinya. Sebaliknya bagi seorang istri, sudah memberi jaminan onderdil tak dipasok materil juga akan protes. Jadi kedua-duanya memang harus berjalan seimbang. Baik istri dan suami harus tahu akan fungsi dan posisi masing-masing. Di mana itu hak dan di mana pula kewajiban.

Ironisnya, Oding yang sudah tua bangkotan ini tak peduli dengan hak dan kewajiban semacam itu. Berani jadi suami, tapi yang diutamakan hanya soal kelon, sementara cari klepon (baca: nafkah) ogah. Bayangkan, selama 2 tahun jadi suami Neli, 23 tahun, kerjanya makan tidur melulu. Ketika istrinya ngomel hampir sepanjang hari, baru dia tergerak. “Sabar sayang, aku akan dapat panggilan kerja di kapal,” begitu akunya.

Kapal mana yang diikuti, juga tak pernah jelas. Yang pasti hari berikutnya dia memang meninggalkan rumah istrinya di Kalibaru, Kecamatan Cilincing. Betulkah dia pergi berlayar untuk jangka dua tahun? Ternyata tidak. Itu semua hanya akan bulus untuk bisa kawin lagi dengan wanita lain yang masih satu RW di Kalibaru, hanya beda RT. Oding memang pembohong kelas dunia.

Awal-awalnya, istri barunya sangat sayang pada Oding yang memang bertampang lumayan. Tapi karena hampir setiap hari hanya dipasok “onderdil” melulu bukan materil, Ny. Triyah, 22, lama-lama bosen juga. Masak di kompleks nelayan, kerjanya sehari-hari di darat terus. “Bang kerja, Bang, jangan hanya ngerjain bini saja. Pinggangku sudah mau putus rasanya, tau nggak?” protes Triyah atas suaminya yang kelewat doyan itu.

Hati dan otak Oding memang terlanjur beku. Meski setiap hari diomeli istrinya, dia tenang-tenang saja. Baginya, wanita ngomel melulu sudah jamaknya, karena dia memang makhluk banyak mulut. Jadi meski Triyah ngomel terus, Oding mendengarkannya lewat telinga kiri, lalu balik lagi lewat telinga kiri. Kalau lewat telinga kanan mendingan, masih ada bekas-bekasnya.

Ilmu tipu-tipu Oding terbongkar ketika sekali waktu istri pertamanya nyasar ke RT lain yang selama ini jadi pangkalan baru suami. Alangkah kagetnya dia, begitu melihat lakinya di rumah Triyah. Katanya berlayar selama dua tahun, kok ini malah duduk-duduk manis di lain RT. “Katanya berlayar, kok ini abang di sini saja sih?” protes Ny. Oding.

Dipergoki istri tuanya tentu saja Oding belingsatan. Mau alasan apa lagi, wong dia memang belum menyiapkan alasan untuk pengibulan tahap II ini. Untung saja bini tua dan bini muda ini bisa didamaikan pengurus RT, sehingga keduanya bisa rukun kembali. Bahkan bini muda dan bini tua kini bisa bergabung sistem manunggal satu atap. Prinsip dua isri ini, suamiku ya suamimu. Oding disepakati jadi asset bersama.

Oding makin berkibar saja jadi suami. Sebab dengan dua bini yang satu rumah, kadang pula satu ranjang, dia tak pernah telat dalam urusan onderdil. Bini muda berhalangan, dia pindah ke kamar bini tua. Begitu pula sebaliknya. Repotnya kalau dua-duanya mens bareng, dengan sangat terpaksa Oding harus tidur di pos hansip.

Lagi-lagi Oding memang lelaki malas kaliber dunia. Meski dua bininya sudah bergabung manunggal satu ranjang, dia masih juga males mencari pekerjaan. Bahkan untuk melegitimasi kepenganggurannya, dia mengaku kecelakaan sehingga harus digip kaki kanannya. Sejak saat itu Oding kerjanya asyik bener, makan dan tidur melulu ditambah meniduri bini. Apa bisa wong sakit? “Ya namanya juga usaha…,” kata Oding.

Akan tetapi sandiwara Oding beberapa hari lalu terbongkar. Salah satu bininya memergoki suaminya bisa berjalan normal. Sadar bahwa selama ini hanya dikadali, Ny. Oding dan Triyah sepakat mengadukan kasus ini ke Polsek Cilincing. Tak tahulah pasal apa yang digunakan menjerat lelaki pemalas ini. Yang pasti dua wanita itu sudah muak dan nggak doyan jadi bini si tukang tipu tersebut.

Menguji Kejujuran Suami

Didengar orang juga nggak lucu, masak klarifikasi perselingkuhan suami kok harus pakai pernyataan dan tanda tangan sebanyak 80 kali. Memangnya Arif, 35 tahun, jadi bendara RT, apa? Padahal selama ini semua orang di lingkungannya tahu bahwa bini Casmini, 30 tahun, ini orangnya paling kalem se Kabupaten Subang (Jabar). Masak doyan selingkuh?

Arif namanya, arif pula orangnya, begitu yang diketahui oleh setiap warga Desa Jayamukti Kecamatan Blanakan. Maka di tempat tinggalnya, meski masih muda lelaki ini jadi panutan dan sosok percontohan oleh kalangan ibu-ibu. “Contoh tuh Arif suaminya Casmini, sangat setia pada istrinya. Ke mana saja selalu berdua, pergi selalu pamit, pulang bawa oleh-oleh,” begitu kata ibu-ibu di sela-sela pengajian atau arisan.

Seperti itukah sosok aslinya Arif? Nggak tahulah, sebab yang lebih tahu kondisi “asli”-nya memang hanyalah Casmini sendiri selaku bininya. Tapi yang pasti, pribadi Arif memang bagaikan dua sisi mata uang logam. Sebelah depan dia kalem, bijak, penyabar, kebapakan. Pokoknya Arif selalu tampil flamboyan, meski tak tinggal di Jalan Flamboyan.

Tapi di satu sisi bagian belakang, dia sesungguhnya sisi uang logam yang butek, kotor, bau ikan asin lagi. Di luar rumah Arif jago pacaran, tak peduli di rumah sudah memiliki “kendaraan” pribadi. Dengan nama Oom Ari sebagai penyamaran, dia sangat dikenal di kalangan wanita jalang si pakar goyang. Lebih-lebih Arif, eh Oom Ari juga royal membagi duit, karena dia mau membayar lebih bagi setiap “produk” yang bagus.

Eloknya lagi, meski sudah kenyang di luaran, di rumah Arif masih bisa menunaikan kewajibannya sebagai suami secara normal. Maka biar namanya Casmini, bini Arif ini selalu memperoleh “cas” secara maksi. Inilah kehebatan Arif. “Aku sih nggak pernah sampai minta, orang belum minta saja selalu dikasih….,” begitu kata Casmini di antara kegiatan arisan, pengajian dan kondangan ibu-ibu. Senam juga, ding!

Rupanya tampang anggun lelaki manyun ini tak bisa langgeng. Beberapa hari lalu datang ke rumahnya dua orang lelaki, yang satu usia 50-an, yang satunya lagi 30-an, mereka mengaku sebagai mertua dan menantu. Belum sempat dipersilakan duduk si mertua bilang bahwa anak perempuannya yang bernama Ida, 26, sudah seminggu tak pulang. Menurut kabar yang diterimanya, seorang saksi mata melihat putrinya terakhir jalan dengan Oom Ari alias di Arif.

Begitu selesai ngomong, si menantu langsung nimbrung. Katanya, gara-gara istrinya dibawa pergi Oom Ari tanpa izin suami, situasi di rumah kacau balau. Anaknya yang baru usia 7 bulan, menangis terus pengin netek. “Apa lagi saya Oom, lebih kacau lagi. Maka di mana Ida sekarang? Mohon ditunjukkan Oom, biar saya nggak kacau-kacau amat,” kata si menantu nyerocos kayak jurkam pilkada di Banten.

Informasi kelabu ini tentu saja bikin shock Casmini selaku bini Arif. Dia baru tahu bahwa di luar suaminya punya nama cakep Oom Ari, dan dia baru tahu pula bahwa seperti itulah kelakuan suaminya yang asli. Langsung cinta dan hormatnya pada suami mendadak rontok. Kelihatannya Arif ini lelaki imut-imut, tak tahunya kelakuannya amit-amit.

Rupanya Arif tak mau kalah. Dia ogah dimintai pertanggungjawaban atas perginya si Ida. Famili bukan, kelurga tidak, kok dibawa-bawa. Pendek kata, Ida Leman kek, Ida Royani kek, Ida Nursanti (bintang film 1960-an) kek, sabodo teuing-lah, itu bukan urusannya. Dia kan memang wanita nakal, bisa dibawa lelaki mana saja. “Pergi kalian pergiiiii, giiiii, giiiii……!” kata Arif seperti ada eho-nya, sambil mengambil pentungan.

Untungnya mertua dan menantu itu mau pergi beneran. Namun sepeninggal mereka Ariflah yang didonder habis-habisan oleh bininya. Casmini tetap minta kejujuran suami, bahkan kalau memang tak selingkuh harus menulis pernyataan dengan kata “sumpah, aku tak pernah selingkuh” sebanyak 80 kali lengkap dengan tanda tangannya. Tentu saja Arif jadi marah. Lupa akan kearifannya selama ini, Casmini digebuki. Tanda tangan banyak amat, memangnya bendahara RT, begitu keluh suami berang tersebut.

Terjebak Nafsu Si Entong

Ada yang bilang, lelaki selingkuh sampai keluar duit, itu goblok! Bila demikian halnya, Damhuri, 40 tahun, adalah lelaki paling bego se kota Semarang (Jateng). Betapa tidak? Demi memanjakan Endah, 30 tahun, selingkuhannnya yang cantik, dia sampai berani korupsi uang perusahaan Rp 170 juta. Padahal akibatnya, selingkuhnya belum katog (puas), Damhuri harus masuk sel polisi.

Teori di atas memang teorinya kaum hidung belang, yang menganggap wanita sekadar ajang pelepas syahwat. Karena dia nafsu melulu setiap ketemu cewek cantik, maka sedapat mungkin harus diperoleh secara prodeo alias gratis. Jika sebentar-sebentar harus mengeluarkan biaya, ya pirang mbetahan (tak selamanya kuat). Maklumlah, kebanyakan lelaki kan hanya kuat di onderdil bukan materil.

Ilmu beginian belum pernah didengar Damhuri, warga Karangsari Kidul, Semarang Tengah. Maka ketika kecantol janda cantik bernama Endah, dia begitu gampang duitnya demi memperoleh cintanya. Berapa saja wanita itu minta, Damhuri selalu berusaha memenuhi. Padahal Endah punya prinsip: seringgit si dua kupang, satu ringgit dibuka kutang, dua ringgit tidur telentang, sepuluh ringgit ranjang bergoyang!

Kasihan memang, prinsip plesetan Endah itu tak pernah disadari Damhuri. Asal dia kangen si janda, karyawan PT. “Sak-awan Rekasa” ini lalu menemui dengan segepok uang. Begitu melihat setumpuk uang 50 ribuan, barulah Endah menggebu-gebu melayani hasrat dan libido Damhuri. Janda satu ini memang sudah tak lebih seorang WTS saja. Padahal jika hanya begitu, dengan Rp 100.000,- di Sunan Kuning sudah entuk telu (dapat tiga).

Asal tahu saja, posisi Damhuri di perusahaan kontraktor itu bukan direktur atau komisaris, tapi hanya pelaksana, yang gaji bulannya belum menyentuh angka Rp 5 juta. Jika dia kelon seminggu dua kali bersama Endah, maka setidaknya dia harus membawa uang Rp 5 juta tunai. Padahal kucuran rejekinya tidak seperti lumpur Lapindo. “Oh beginilah cinta, saya harus kuat di kantong demi memanjakan “si entong”…..,” begitu Damhuri pernah mengeluh.

Halal haram tabrak saja, begitu prinsip Damhuri yang mulai kalap. Sebagai pelaksana proyek, dia mulai nakal. Ketika dapat borongan membangun gereja, dia manipulasi data pekerja. Pekerja hanya sekitar 25 orang, Damhuri bilang 50-an. Material begitu pula, habis pasir 100 truk dia menulis laporan 150 truk. Apa lagi semen, ini paling sering dicatut. Pemakaian semen 200 sak, Damhuri bilang 300 sak!

Istrinya di rumah, sama sekali tak tahu kenakalan Damhuri di perusahaan. Sebab uang hasil catut-mencatut tersebut memang tak mengalir ke rumah, tapi lari ke Endah yang cantik, sekel nan cemekel (enak dipegang) itu. Bahkan sering pula, Damhuri seharian tak pulang ke rumah, tapi nginep di rumah sijanda. Paginya mereka jalan pagi bersama, Damhuri pakai training putih, Endah pakai merah-merah. Jadi presis burung katuk bawang!

Damhuri memang sudah lupa keluarga, matanya ketutup kecantikan dan goyangan si janda. Padahal, sementara dia terpuaskan oleh kenikmatan-kenikmatan sekejap, Endah diam-diam bisa beli rumah lain dari hasil “meres” luar dalam Damhuri minimal seminggu dua kali itu. “Enak juga punya selingkuhan Damhuri, duit terus dipasok, “sawah” sepetakku tetap wutuh nggetuh (utuh)….,” batin Endah bangga.

Orang goblok macam Damhuri memang kelewatan. Rupanya dia tak pernah menyadari bahwa manipulasi-manipulasi yang dilakukannya bakalan terbongkar. Dan ketika dia sadar, semuanya terlambat. Lantaran proyek gereja tak kelar-kelar, pemilik protes dan terungkaplah kecurangan Damhuri. Pekerja yang dilaporkan 50 tiap minggu, ternyata hanya 25 orang, pantesan pekerjaan jadi lambat.

Laporan fiktip itu terus dikembangkan dan semakin terbongkarlah kebusukan Damhuri yang lain. Total jendral PT. “Sak-awan Rekasa” mengalami kerugian Rp 170 juta akibat dimanipulasi si tukang selingkuh. Hari itu juga Damhuri ditangkap dan dijebloskan ke sel Polres Semarang Tengah. Anehnya, ketika diperiksa masih saja dia merasa tak bersalah. “Apa salahnya memanjakan wanita yang dicintai,” begitu alasan Damhuri.

Apa salahnya? Dengkulmu mlocot, Mas!

MEMBURU OBSESI CINTA

Apa iya, Eli, 30, tidak cinta pada Bahrun, 40, suaminya? Kenapa bisa berjalan rumahtangganya hingga 10 tahun lamanya? Lalu dua anak yang telah lahir dari rahimnya tersebut pertanda apa? Cinta atau sekadar hobi? Dan apakah karena mengejar obsesi cintanya, Eli kini nekad bermain selingkuh dengan guru ngaji anaknya?

Ketika kawin dengan Bahrun 10 tahun lalu, bagi Eli rasanya memang mimpi saja. Kala itu sebetulnya dia sudah punya kekasih sendiri. Tapi karena sidoi belum kerja, sedangkan ortu Eli kebelet pengin punya cucu, dia dijodohkan dengan Bahrun yang segalanya sudah siap. Maka Eli sungguh tak menyangka, bahwa Bahrun yang dulunya nampak acuh padanya, ternyata muncul sebagai kuda hitam dan jadi suaminya kini.

Untuk pertama kalinya Eli harus meratapi cintanya. Sidoi yang sangat dicintai, gagal jadi suami. Sedangkan Bahrun yang sebelumnya tak pernah masuk agenda hati, tahu-tahu malah jadi lakinya. Namanya juga sebagai kuda hitam, di malam pertama Bahrun betul-betul menunjukkan tenaga kudanya. Eli yang sebetulnya tak mencintai, harus termehek-mehek menerima serangan sang kontraktor muda itu.

Cinta, ah gombal sajalah itu! Buktinya lama-lama Eli mampu melupakan sidua. Soalnya Bahrun sebagai suami nyaris tanpa cacat. Dia sangat sayang pada istrinya, dan selalu bisa memanjakan segala keinginannya. Kesetiannya tiada tara. Kalau pulang telat selalu bilang: mama makan dulu ya! Bila pergi kondangan, di arena resepsi selalu menempel di belakang istrinya. Ih…bikin iri dan cemburu saja!

Iri dan cemburu, sebodo teuing lah. Nyatanya lama-lama Eli nyaman juga di samping Bahrun yang sangat mencintai dirinya. Benar kata orangtua, kawinlah dengan lelaki yang mencintaimu, maka kamu akan dimanjakan. Dam Eli telah membuktikannya. Sebagai istri yang baik, kini dia sudah mampu pula mengimbanginya. Sekarang bila di ujung malam tanpa Bahrun di sampingnya, Eli tak bisa merem!

Namum perjalanan cinta Eli memang belum berakhir. Ketika dia mengundang guru ngaji ke rumah bagi putrinya yang bungsu, jantungnya nyaris copot. Ah, ustadz muda bernama Julkifli, 24, itu kenapa begitu mirip dengan doinya dulu. Senyumnya, gerak langkahnya, sorot matanya, semua duplikasi sidia yang telah pergi entah ke mana. Dan ketika tangan itu bersinggungan ketika memberikan minum, oh rasanya seperti kena setruman PLN Balongan yang jadi masalah.

Tirai-tirai asmara Eli kembali terkuak. Dia menjadi merasa indah dan bahagia ketika dekat dengan ustadz Julkifli. Itu dibawanya sampai ke ranjang suami. Mana kala Bahrun berpacu dalam birahi sebagai suami, justru Eli membayangkan tengah melayani bang Julkifli sampai kefle-kefle (loyo) kehabisan energi. “Kenapa kau berkejaran dalam khayalku,” ratap Eli.

Agaknya Eli sudah kecantol berat pada si guru ngaji itu. Bila kemarin-kemarin dia selalu mencoba berkelit menghadapi lelaki sembrono, kini justru Eli yang memancing-mancing Julkifli untuk berbuat hil-hil yang mustahal. Sebagai anak muda yang belum pengalaman, sering dipameri belahan dada Eli, tentu saja jadi pusing. Mestinya dia bilang: astagfirullah, Julkifli malah mengucap: alhamdulillah.

Maka setan pun langsung nimbrung. Ibu muda dari Pandeglang ini sengaja dibikin semakin dalam terperosok dalam asmara durhaka. Secara diam-diam dia suka mengajak Julkifli dari Bojong ini ke hotel. Di situlah mereka menuntaskan nafsu birahi. Karena Julkifli jauh lebih muda, tentu sepak terjangnya ruarrrr biasak. Tinggal Eli yang telah berpengalaman mengarahkan agar menjadi tepat guna dan tepat sasaran!

Asmara haram itu terus berlanjut. Julkifli lupa akan statusnya sebagai guru ngaji, dan Eli lupa akan posisinya sebagai ibu rumahtangga. Asal spaneng naik ke kepala, dari pada ditahan-tahan jadi kemenyan, keduanya kembali masuk hotel. Gara-gara ini pula, Eli suka pulang telat, kewajiban sebagai istri di rumah menjadi kedodoran. Melayani suami di ranjang juga asal-asalan, seperti sinetron kejar tayang.

Melihat perilaku istrinya yang aneh, diam-diam Bahrun membentuk Pansus Perselingkuhan. Melalui orang-orang kepercayaananya akhirnya diperoleh data, Eli memang suka masuk hotel bersama guru ngajinya. Maka ketika laporannya telah demikian akurat, pasangan itu digerebek. Ternyata betul, di sebuah hotel di Serang tampak Julkifli-Eli kepergok sedang ketanggungan tumpang tindih menggeber birahi.

Asyiknya nggak seberapa, malunya sampai ujung dunia!

Bandot Kepala Hitam

Agaknya Mulyana, 44, lelaki tak pernah punya rasa jera. Dipecat dari Polri karena urusan perempuan, tapi itu tak membuatnya kapok. Terus saja dia berjuwang urusan seputar paha. Bini sudah dua Mulyana belum juga puas. Sejumlah anak tirinya mau dinodai, tapi hanya si Fitri, 17, yang termehek-mehek diperkosa hingga 3 kali. Benar-benar kambing bandot kepala hitam dia!

Tak diketahui pasti, apa penyebabnya lelaki dari Kalideres Jakarta Barat ini jadi gila wanita. Padahal pembawaan sehari-harinya cukup kalem. Tapi nggak tahunya, di balik kekalemannya tersebut dia sesungguhnya lelaki bermental serigala. Setiap melihat perempuan cantik, bawaannya mau main terkam saja. Mulyana memang selalu haus akan daging mentah!

Istri Mulyana lebih dari satu, kalau tak mau disebut dua! Ini diperolehnya ketika dia masih aktif jadi anggota Polri dan berdinas di Mabes.Tapi meski sudah punya dua kendaraan, dia belum juga kenyang jadi jago pacaran. Ditambah kasus lain, akhirnya Mulyana kena tindakan drastis, dipecat dari dinas Polri. Uniknya, kepada keluarga dan tetangganya tak pernah mengaku statusnya kini. Tiap hari dia masih petentang-petenteng berbaju polisi, meski kantornya di Polres Entah Berentah.

Kalau soal kedinasan bisa berhenti, soal “kehangatan” wanita dia tak pernah mau berhenti. Ketika masih berdinas dia bisa membeli wanita siapa saja suka, kini setelah tak punya duit Mulyana berburu sekenanya. Sejumlah anak tiri yang selama ini ikut padanya, selalu menjadi target operasinya. Memang istri keduanya yang bernama Yayuk, 40, ini memiliki tiga gadis beranjak dewasa. Mulus-mulus lagi.

Anak tiri pertamanya, pernah didekati dalam rangka mau ditelateni. Tapi karena tahu gelagat, dia menyingkir, menjauhi ibu dan bapak tirinya dari kampung Rawalele. Dia takut jadi korban “lele dumbo” yang bernama Mulyana ini. “Orangnya sih nggak seberapa, tapi “sungut” dan patilannya itu lho,” gumam si anak tiri sebelum mengungsi.

Hal itu tak membuat Mulyana berkaca diri. Lolos anak tiri pertama, kan masih ada dua stok lagi. Untuk kedua kalinya si lele dumbo ini mencoba menggerayangi anak tiri yang kedua. Lagi-lagi si anak tiri bisa berkelit, dan dia menyusul kakaknya, minggat dari rumah. Benar-benar bekas polisi ini jadi hama di rumah sendiri, cuma hama satu ini tahan fumigasi dan pengasapan.

Malangnya nasib diderita oleh anak tiri ketiga yang bernama Fitri. Lantaran kedua kakaknya tak pernah cerita tentang “bahaya udara” di rumah, dia tenang saja ketika di rumah hanya berdua-dua saja dengan ayah tirinya. Padahal sikap ini sama saja Fitri menghitung hari menuju kematian. Gadis bungsu ini memang belum kenal siapa “lele dumbo” bernama Mulyana itu.

Apa yang dikhawatirkan para anak tiri itu akhirnya benar-benar menimpa Fitri. Saat dia tidur sendirian di rumah, tahu-tahu ditindih oleh ayah tirinya, sementara tangan kasarnya mulai menyusup ke mana-mana. Sewaktu Fitri bilang: jangan begitu Pak, jangan begitu Pak, Mulyana menghardik galak. “Jangan begitu itu bumbunya apa? Ayo manut saja, bapak sayang kamu…,” kata Mulyana.

Nona manis yang sesungguhnya anak tiri itu terus mencoba berontak. Tapi Mulyana memang lebih kuat. Dengan ancaman mau dibunuh kalau tak menurut, terpaksa Fitri tak berkuti. Dia bertekuk lutut dan berbuka paha untuk ayah tirinya yang bermental serigala. Dan Mulyana pun melepaskan nafsyunya secara biadab: gusrak, gusrak, gusss…raakkk, Lalu ngorok ngggrrgg, nggergh….!

Itu tak berlangsung hanya sekali itu. Lain waktu ketika situasinya demikian mantap terkendali, kembali Mulyana menelateni si anak tiri. Setiap rumah sepi, Fitri dijadikan menu “sarapan kedua”. Maka hanya dalam tempo sebulan, sudah tiga kali gadis malang itu dilanggar kehormatannya. “Awas, kalau kamu cerita pada siapa-siapa,” ancam Mulyana setiap usai berbuat.

Setakut-takutnya Fitri akan ancaman, jika selalu jadi sasaran patilan si lele dumbo, akhirnya timbul pula keberaniannya. Beberapa hari lalu dia nekad bercerita pada Yayuk ibunya. Ibunya pun terkaget-kaget, sehingga ibu dan anak ini lalu mendatangi Polsek Kalideres minta agar Mulyana segera dibekuk dan dikandangi. Maklum patilan lele dumbo satu ini sangat mengerikan!

Ada Bau Selingkuhnya

Selingkuhnya pasangan Indri-Ridwan dari Cirebon ini agaknya seperti kasus konglomerat korup di Indonesia. Ada bau korupsinya, tapi sulit pembuktiannya. Cuma bedanya, kalau koruptor diberi SP3 alias penghentian penyelidikan, Indri-Ridwan malah menempuh jalan P2R alias Politik Pisah Rumah yang kemudian dilanjutkan dengan T2SB alias: Tusuk-Tusukan Sampai Berdarah!

Indri, 25 tahun, memang cantik, karena itu Ridwan, 30 tahun, tak pernah tenang meninggalkan bininya lama-lama. Maklum di zaman era gombalisasi seperti sekarang ini, banyak setan lewat. Bisa datang dari kalangan teman sekerja, bisa pula muncul dari lingkungan tetangga. Bagi Ridwan yang ekonominya kurang mapan, intervensi bidang ekonomi memang bisa menyebabkan istrinya goyah iman. Dia sangat mencemaskan, gara-gara dipasok materil Indri rela menyerahkan onderdil!

Tak jelas dari mana sumbernya, tiba-tiba terbetik kabar Indri yang karyawan pabrik ini ada main dengan lelaki lain. Sebagai suami tentu saja Ridwan segera klarifikasi. Tapi Indri tidak mengaku, justru dia balik yang menuduh, suaminyalah yang dengan sengaja main asmara di bawah tanah. “Ala, sampeyan mau lempar batu sembunyi tangan ya….?” tuduh Indri ketus.

Ingatan Ridwan pun lalu kembali pada dalil lama bahwa “maling takkan pernah mengaku”. Lantaran bininya tak juga berterus terang sebagaimana maunya, dia memilih meninggalkan rumahnya di Desa Penipan Blok Mandar, untuk kembali pada orangtuanya. Dua anak hasil kerjasama cinta selama satu pelita berumahtangga, ditinggalkan begitu saja. Pikir Ridwan, dengan “embargo” semacam ini pastilah Indri akan kelabakan dibuatnya.

Akan tetapi rupanya embargo ekonomi Ridwan tak mempan. Bahkan Ridwan sendiri yang “pusing” di segala lini, karena sudah dua minggu lebih tidak “nyetrom” sebagaimana biasanya. Karenanya, dengan alasan kangen pada anak-anak, dia kembali mengunjungi rumah mertuanya. “Habis kangen sama anak, boleh dong kangen sama emaknya,” begitu pikir Ridwan.

Ternyata prediksinya meleset. Tiba di rumah mertua, istrinya menyambut dingin saja, sementara kedua anaknya disembunyikan entah di mana. Ridwan mencoba bertanya, tapi Indri tak menggubris. Bahkan dia pura-pura sibuk berhape-hapean dengan seseorang. Entah sekadar untuk memanas-manasi atau bagaimana, Indri tak pernah lepas dari kata: sayangku, halo cayang! Ya, kata sayang bukan pakai huruf s, tapi c. Bagaimana Ridwan tak empot-empotan jadinya?

Ingin rasanya Ridwan merebut HP itu lalu dibanting, brakkkk. Tapi dia sadar bahwa cara kasar itu takkan menyelesaikan masalah. Maunya karyawan pabrik ini, kena ikannya janganlah sampai keruh kolamnya. “Dapat goyangannnya, jangan pula malah malah meledak amarahnya,” begitu dia berprinsip.

Kesabaran Ridwan ternyata percuma saja, sebab setelah capek HP-HP-an Indri malah mengunci kamar dari dalam. Diketuk-ketuk dari luar tak juga dibukakan pintu. Terpaksalah Ridwan kembali ke kampung sendiri. Kepala mau ngebul rasanya, karena rasa rindu pada istri tak terlampiaskan, sehingga nyaris mengkristal jadi kemenyan.

Akhirnya Ridwan pun jadi kalap. Tiba di rumah dia mengambil pisau dan tali dan lalu kembali lagi ke rumah mertuanya. Perhitungannya tepat. Indri yang menganggap suami tak balik lagi, tak lagi mengunci kamarnya. Maka dengan leluasa Ridwan membalas dendam. Istri yang tengah tidur itu langsung ditusuk dadanya pakai pisau, juss. Indri pun berteriak, darah muncrat dari dadanya, ujung pisau itu nyaris mengenai jantungnya. Berkat teriakannya, Ridwan tak bisa melarikan diri karena langsung dikepung dan dibekuk warga.

Hebohlah kampung Penipan. Indri dilarikan ke RS Gunung Jati, dan Ridwan diseret ke Polres Cirebon. Dalam pemeriksaan dia mengakui berbuat nekad karena cemburu istrinya main selingkuh. Benarkah tuduhan itu? Nyatanya Indri justru menuduh suaminyalah yang selingkuh. “Lelaki memang bisa aja. Dianya yang selingkuh, kok malah menuduh istri, weeee…..,” kata Indri kesal. Benar-benar ruwet.