Tuesday, February 3, 2009

Yang Jatuh Di Pelukan Tetangga

Andaikan Sarijo, 40 tahun, tak ada main dengan bini tetangga sendiri, niscaya dia bisa bertahan pada posisinya sebagai pamong desa, setidaknya hingga 2009 nanti. Tapi begitulah, lelaki di mana saja sama; tak tahan lihat pantat gede dan dada montok. Baru ketemu Ny. Asih, 34 tahun, tetangganya yang semog (seksi) dan putih macam penyanyi Alda, sudah klepek-klepek lupa kedudukan. Maka ketika perselingkuhan itu terbongkar, dia dipaksa mundur dadi jabatannya.

Tokoh keagamaan dan pemuka masyarakat sering bilang bahwa anak adam bisa lupa daratan karena tiga ta, yakni: harta, tahta dan wanita. Buktinya kini seabrek-abrek. Anggota DPRD sampai gubernur diadili gara-gara korup, politisi main curang dalam pilkada karena haus tahta. Dan terakhir, Yahya Zaini anggota DPR mental dari Senayan dan jatuh dari pohon beringin karena “ndangdutan” di ranjang bersama penyanyi dangdut Maria Eva.

Ini peringatan berharga bagi para pemegang kekuasaan, termasuk penguasa kelas teri sebagaimana pamong desa Sarijo, dari Wonosari, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Melalui teve di rumahnya, dia juga sering menyaksikan kaca benggala kehidupan tersebut. Tapi ketika dirinya tengah jatuh kasmaran pada bini tetangga sendiri, dia mencoba berlagak pilon saja. “Ah itu kan bagi mereka yang kelas tinggi, bagi saya-saya ini, nggak sampai begitu, lah iyauwww,” begitu katanya menghibur diri.

Kalau boleh berterus terang, pamong desa Sawahan Kecamatan Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunung Kidul ini memang sedang “nyawah” di tetangga sebelah rumah. Jika suami Asih pergi, Sarijo suka “nyangkul” bersama wanita itu. Pacul masih muda, ketemu lahan gembur banyak komposnya, tentu saja cangkulannya dalem-dalem. Di malam yang sepi Sarijo-Asih suka goclak-gaclok “mencangkul” hingga mandi keringat.

Asih memang “sawah” yang enak dicangkul dan perlu. Orangnya cantik, bodi sekel nan cemekel macam penyanyi Alda. Maka sejak kenal pertama beberapa tahun lalu, Sarijo jadi suka ngglibet mengadakan pendekatan. Gila memang, orang wanita berkulit putih bersih itu masih punya suami, kok ditelateni juga. Dicolek pertama kali, Asih berkelit. Ketika Sarijo menegurnya, reaksi bini tetangga itu enteng saja. “Aku tak biasaaaa…..,” kata Asih, sungguh mirip penyanyi Alda yang sudah almarhumah itu.

Hanya saja Sarijo tahu watak wanita pada umumnya, kalau ditelateni terus, yang tadinya ogah-ogah, akan bilang: ah, ah, ahhhhhh! Yang tadinya mau memanggil hansip, bila telah kena pengapesannya, pasti malah bilang: sip, sip, siiiiip! Maka tekad Sarijo pun semakin mantap, biar diludahi, biar dimaki-maki, Asih akan dikejar terus hingga wanita itu bertekuk lutut dan berbuka paha untuknya.

Ilmu Merayu Wanita sistem 50 jam memang sudah dikuasai benar oleh Sarijo. Ketika keluarga Asih bikin dapur, tahu-tahu dia kirim pasir dan semen satu truk. Meski Asih tak pernah minta, bak Departemen Sosial, pamong desa itu memberikan uang Rp 2 juta. Uang tersebut sesungguhnya bolehnya minjam ke kelurahan lewat kredit PPMK (Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan). Begitulah lelaki, bila ada maunya sok semugih (berlagak kaya). Padahal di rumah, anaknya bayar SPP saja telat melulu.

Disemprot bantuan terus macam lumpur Lapindo, lama-lama Asih melunak juga. Buktinya, dia mulai menerima kunjungan Sarijo di kala misoanya tak di rumah. Dasar ini yang ditunggu-tunggu sipamong desa, begitu situasinya sangat mantap terkendali, Asih pun ditubruk dan lalu digelandang ke kamar. Memang awalnya berontak, tapi lama-lama ya ah, ah, ahhhhhh. Tadinya mau meringis, sekarang malah mrenges. “Dasar lelaki, kalau belum keturutan nguyaaaaak (mengejar) terus,” kata Asih setelah skore 1-0.

Orang-orang di sekitar rumah Sarijo-Asih semula tak tahu adanya skandal itu, begitu pula pasangan mereka. Tapi lantaran pamong desa itu semakin berani jadi lelaki subita (suka bini tetangga), penduduk pun lama-lama jadi tahu bahwa pamong desa Sarijo suka menyelinap ke rumah Asih di kala suaminya pergi. Mereka pun pernah memergoki, betapa laki wanita yang bukan suami istri itu berbagi cinta di ranjang terlarang.

Lembaga desa yang bernama Badan Perwakilan Desa (Baperdes) pun dilapori akan kelakuan bejad pamong Sarijo. Lebih dari itu penduduk menggelar demo ke kantor camat Ponjong, minta agar pamong jago selingkuh tersebut dicopot. Camat pun lalu memanggil Sarijo dan diinterogasi, ternyata mengaku memang suka selingkuh bersama Ny. Asih. Tapi kalau warga tak menghendaki dirinya, dia siap mundur dari jabatan. “Nggak apa saya mundur dari pamong, gara-gara “maju mundur” sama Asih,” kata Sarijo tanpa malu-malu.Atau gini saja, Asih suruh cerai dulu, lalu dimadu, mengikuti jejak Aa Gym.

Berang Tak Jadi Nunggang

Siapa orangnya yang nggak berang? Sudah dipacari 2 tahun tanpa masyallah, ketika hendak dinikahi kok Winarni, 42, malah memutuskan hubungan. Duda dari Purwokerto bernama Santosa, 55, ini malu sekali, sudah kondang kok nggak jadi nunggang. Daripada mbebara wirang, mending mati aja. Maka disaksikan calon anak-anak tirinya, dia nekad menusukkan pisau ke perutnya, jusss! Mati sih tidak, tapi masuk rumahsakit sudahlah pasti.

Ini kisah melankolis seorang lelaki tua. Umur sudah kepala lima, tapi masih terlalu mengagung-agungkan cinta. Maklumlah, perjalanan cintanya sedari muda kandas. Sejak lima tahun lalu dia hidup menduda, karena istrinya meninggal. Itu berarti, sudah selama satu pelita Santosa tak menikmati kelembutan dan kehangatan seorang wanita. Pendek kata dia telah menyatakan “gencatan senjata”, tak peduli tanpa persetujuan PBB.

Tapi Santosa memang manusia normal 100 persen. Awal-awalnya dia kehilangan selera pada makhluk lawan jenisnya, sebab dia masih terobsesi oleh mendiang istrinya. Lagi pula, istri pengganti belum tentu sebaik istrinya dulu. Lebih dari itu, mencari bini kini bukan mutlak untuk kebahagiaan dirinya, tapi juga anak-anaknya. Bisakah mereka menerima kehadiran ibu baru? Kalau tidak, perang Baratayuda anak-ibu tiri bisa terjadi. “Enak di entong, anak-anak nangis melolong-lolong,” kata Santosa.

Ibu tiri yang menjadi momok setiap anak, ternyata belakangan bisa diterima oleh ke-7 anak Santosa. Mereka sangat memahami aspirasi arus bawah ayahnya. Maka mereka kemudian menyarankan sang ayah kawin lagi. Soal mencuci dan urusan perut Santosa mereka memang masih bisa meladeni. Tapi soal di “bawah perut” ayahnya? Ini masalah krusial yang harus didelegasikan ke pihak lain.

Atas restu dan legitimasi anak-anaknya, Santosa mulai milang-miling golek tanding lencir kuning (tengok sana sini cari bini). Mencari yang masih muda kaya Maria Eva, sebetulnya bisa saja. Tapi Santosa malu ati, nanti dikira lelaki tua nggak nyebut (tak ingat Tuhan). Maka sasaran perburuannya ya yang sudah usia kepala empat. “Cantik, putih bersih, lebih disukai yang mau dijak mlarat (diajak miskin),” begitu Santosa memberikan kriteria.

Ternyata di kawasan Purwokerto tempat tinggalnya, dia tak menemukan. Baru di kota Tegal, cinta Santosa terdampar pada janda STNK dari jalan Ceremai. Wih, orangnya cukup cantik, putih bersih, pakai jilbab pula kalau keluar rumah. Bila ada sedikit cacat, wanita ini sudah punya anak tiga, sama-sama telah berangkat remaja. Santosa pun berkalkulasi, tiga ditambah tujuh, jadi sepuluh anak. Ah, kok jadi kayak Aa Gym saja, ketika kawin lagi jadi punya 10 anak!

Ingin sebetulnya Santosa segera menikahi janda Winarni itu, agar dapat segera “mbelah duren” jatohan. Tapi sayang dia tak bersedia. Alasannya masuk akal juga, katanya harus ada penjajagan dulu, saling menyesuaikan. Daripada setelah jadi suami istri menyesal, kan lebih baik bubaran sebelum ke KUA. “Sabar ya Tong, masa gencatan senjata terpaksa diperpanjang lagi….,” bisik Santosa pada “si entong” miliknya.

Keduanya pun lalu mengadakan penjajagan, dalam arti suka jalan bareng. Tapi ketika mau “dijajagi” seberapa kedalamannya di sebuah hotel, Winarni menolak karena belum halalan tayiban. Jangankan dijajagi, baru mau dicium tangannya saja sijanda menepiskannya. Santosa jadi semakin tahu kesadaran agama si janda, maka diapun makin menggunung cintanya.

Agungnya cinta Santosa menyebabkan dia mau berkorban apa saja. Ketika Winarni merehab rumah, tanpa diminta dia membantu genting keramik dan pager stenlis. Sebetulnya mau bantu dengan uang tunai, tapi adanya dolar Bolivia. Sayangnya, sudah disumbang materil, Winarni belum juga mau menyerahkan onderdil. Setiap dicolek-colek janda calon istri ini terus saja berkelit. “Sebelum ada surat, tak boleh buka aurat, titik!,” begitu kata Winarni, kali ini tegas sekali.

Hal itu ternyata berbuntut panjang. Winarni kembali menjauh, padahal hubungan sudah berjalan 2 tahun. Paling mengagetkan, ketika Santosa minta ketegasan, si janda malah menyatakan: putus! Wah, malu sekali si duda kasmaran, sudah kondang kok batal nunggang (naik). Katanya kemudian, ya sudah kalau begitu. Tapi Santosa lalu mengambil pisau dan ditusukkan ke perutnya, juss. Winarni dan anak-anaknya pun terpekik, mereka melarikan calon bapak tiri itu ke RSUD Kardinah.

Peselingkuh Mencla-Mencle

Kurang apa sabarnya Risanto, 35 tahun, sebagai lelaki? Bininya, Tatik, 28 tahun, diselingkuhi teman, dia tak sampai mengamuk, kecuali hanya minta biaya perceraian ditanggung Garjito, 33, pelakunya. Tapi ternyata begitu sampai jatuh tempo perjajian, peselingkuh muda tersebut malah mengelak. Keruan saja Risanto jadi kalap. Lelaki mencla-mencle itu digebuk bongkotan pring (sebatang bambu) hingga tewas.

Emosi Risanto sebenarnya sejak lama dipancing-pancing oleh kelakuan istrinya. Soalnya dia mendengar kabar selentingan bahwa Tatik ada main dengan Garjito, teman sendiri yang tinggal di Desa Durensawit Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Sayangnya, dia tak pernah menyaksikan sendiri perselingkuhan itu. Bagaimana bisa menyaksikan, wong selama ini dia tinggal di Jakarta sebagai pekerja serabutan.

Magelang – Jakarta memang bukan jarak yang pendek, sehingga tak mungkin Risanto nglajo (pulang kembali) setiap hari. Dia menemui keluarganya hanya sebulan sekali. Tentu saja, selain membawa benggol (baca: uang), dia juga dalam rangka setor bonggol. Maklum, sebulan puasa wanita, siapa pun orangnya tentulah takkan tahan. Apalagi meninggalkan istri cantik macam Risanto tersebut. Rasa rindunya sering mengkristal jadi kemenyan!

Akan halnya Tatik sebagai istri, juga sering menderita terlalu lama ditinggal suami. Dulu ketika Risanto masih di Magelang, hampir setiap malam bisa goyang. Tapi kini, hari-hari bisa selalu ngaplo (bengong), tanpa kegiatan penuh makna dan dinamika. Pengin dia menyusul ke Ibukota, tapi Risanto melarang dengan alasan belum memiliki tempat memadai. “Yen aku dhewe, manggon ana leng kodhok paribasane, ya isih pantes (jika aku sendirian, tinggal di lobang kodok pun masih pantas),” kata suaminya kala itu.

Nahan rasa sepi jauh dari suami, memang cobaan tersendiri bagi Tatik. Belakangan dia suka ngulat-ngulet (menggeliat) macam ayam memeti. Punya suami satu yang dimonopoli atas dirinya saja sering kedinginan, bagaimana dengan suami yang dibagi dua macam Aa Gym atau dibagi empat macam Puspo Wardoyo. Lalu bagaimana pula dengan suami yang dibagi sembilan sebagaimana kakek-kakek dari Pemalang itu?

Apesnya, sikap Tatik yang demikian ternyata terpantau oleh Garjito, teman lama Risanto yang tinggal di Borobudur. Sebagai lelaki pakar dalam bidang kewanitaan, dia tahu persis bahwa istri Risanto ini sangat membutuhkan siraman cinta kasih yang merindu. Dan karena Tatik ini sesungguhnya cukup cantik menawan di kelasnya, sudah barang tentu Garjito siap jadi dewa penolong. “Tatik memang enak dikeloni dan perlu,” kata Garjito sambil tenggorokan clegukan saking ngilernya.

Aksi pendekatan pun dimulai. Di kala Risanto di Ibukota, Garjito main ke rumah Tatik di Pakis, Kecamatan Pakis. Malamnya, dengan alasan kehabisan angkutan, dia sengaja mohon menginap di situ. Dan ternyata ini keterusan, katanya hanya menginap semalam, menjadi ngelantur 15 malam alias setengah bulan. Anehnya, Tatik mengizinkan saja, atau memang sudah terjadi simbiosis mutualis (saling memberi dan menerima).

Jago bangkok ngendon berminggu-minggu di rumah babon leghorn, mana mungkin tanpa “berkukuruyuk”? Begitu pula mestinya yang terjadi atas Tatik-Garjito. Pasokan rindu yang biasanya ketemu sebulan sekali, kala itu bisa disuplai sampai glegeken (kenyang). Dan ternyata Garjito menjadi betah sekali lantaran Tatik memang masih legit dan pulen macam wajik Ny. Weeek atau getuk Trio.

Asyik bagi Tatik – Garjito, sudah barang tentu sangat menyesakkan bagi tetangga kanan kiri. Mereka pun kemudian kirim laporan pada pihak terkait alias Risanto. Tapi ketika sang suami hanya mengecek lewat telepon, Tatik pun bisa menangkis segala kecurigaan suami. “Mereka kan orang sirik aja. Pernah memang Garjito mencarimu, tapi setelah itu dia tak pernah datang lagi,” kata Tatik berkibul-ria.

Meski istrinya membantah perselingkuhan itu, hati Risanto menjadi tak tenang. Dia pun lalu meluncur pulang ke Pakis sebelum waktunya. Ternyata betul, Garjito tinggal di rumahnya. Dengan menahan segala emosinya dia memanggil pengurus RT untuk menyidangkan lelaki seniman alias senang istri teman. Hasilnya cukup memuaskan kedua belah pihak, Risanto siap menceraikan Tatik asalkan dibiayai oleh Garjito.

Akan tetapi ternyata Garjito hanya nggah-nggih ra kepanggih (janji tinggal janji).. Sampai hari H pembayaran biaya perceraian, ternyata peselingkuh muda itu tak menepati janji. Ketika didatangi ke rumahnya di Duren Sawit dia malah berkelit. Risanto kali ini betul-betul emosi, lelaki mencla-mencle itu dipukul batang bambu hingga tewas di tempat. Meski kini dia diadili di PN Magelang, tapi sudah terpuaskan pembalasan sakit hatinya.

Poligami Berujung Maut

Asminah (56), memang bukan teh Ninih Mutmainah yang istri perdana Aa Gym itu. Bila bini dai kondang itu mau dimadu, wanita tua dari Karanganyar (Solo) ini rela tapi terpaksa. Maka sepanjang Gunoto, 60, mengikuti program “slendro-pelog” dalam keluarga, isinya ribuuut melulu. Ujung-ujungnya, Asminah ditemukan tewas dengan cara mengenaskan.

Tatkala Asminah memilih Gunoto jadi suaminya 30 tahun lalu, lelaki ini pembawaannya kalem dan sangat flamboyan, mungkin karena tinggalnya juga di Jalan Flamboyan. Meski tampangnya pas-pasan, karena nampaknya sangat bertanggungjawab Asminah mau menanggapi aspirasi arus bawahnya. Sebab bagi seorang wanita, lelaki untuk suami bukan kegantengan, tapi tanggungjawab dan loyalitas pada keluarga.

Idaman Asminah untuk memiliki suami yang kalem dan setia, tercapai sudah. Lelaki dari Desa Pandeyan Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar ini memang sembada (konsekuen). Kuat di onderdil, tapi juga kuat di materil. Enam tahun berumahtangga anaknya langsung tiga, tapi secara materi Gunoto mampu membiayai kebutuhan keluarganya. Jadi ibarat kata, tahunya Asminah ini tinggal mamah dan mlumah.

Keluarga menjadi titik perhatian utama bagi Gunoto. Minta apa saja mereka pasti dipenuhi sepanjang dia mampu. Istrinya, karena memang cantik, dipenuhi segala kebutuhan perhiasannya. Bila bepergian nyaris seperti toko emas berjalan. Di rumah, pakaian khusus untuk istri hampir satu kamar sendiri. “Ma, aku pulang telat, makan aja dulu ya, nggak usah nunggu papa,” kata Gunoto, mesraaa sekali dan bikin iri.

Akan tetapi, semua itu cerita duluuuuu! Sejak punya tetangga bernama Fatimah, semuanya jadi berubah. Maklum barang baru, meski istrinya cukup cantik, dibandingkan dengan si Fatimah yang lebih muda, Asminah ya kalah total. Fatimah masih sekel nan cemekel (enak dipegang), sedangkan istrinya; mulai menggelambir di sana sini. Wajahnya tidak lagi mulus, muncul flek di sana sini. Pendek kata, Gunoto mulai terpikat masuk perangkap.

Hari-hari sejak kehadiran si janda muda Fatimah, otak Gunoto penuh dengan nuansa Fatimah. Istrinya mulai terpinggirkan, karena dia berencana mendekati si janda bahenol nan putih bersih itu. Gunoto kini mulai genit, rajin bersolek. Rambutnya yang mendekati Menhub Hatta Radjasa, rajin disemir. Minyak rambut yang dulunya minyak orang-aring mau, sekarang pakai Brisk, biar lebih nggaya.

Ceritanya dia memang ingin mengambil Fatimah sebagai istri kedua, kalau bisa. Bila Aa Gym mempersiapkan poligaminya sejak 5 tahun lalu, lelaki dari Karanganyar ini cukup itungan bulan saja. Tekad Gunoto memang kadung mantep. Jika istri pertama mau dimadu, ya kehidupan “slendro-pelog” dijalaninya. Tapi kalau tidak mau, istri pertama harus minggir. Rawe-rawe rantas malang-malang putung (babat segala rintangan), begitu tekadnya.

Apa ilmu yang dimiliki Gunoto tak jelas, tapi nyatanya Fatimah yang janda sebelah rumah itu bisa ditempel. Mulanya memang susah, didekati selalu menghindar. Jangankan dicium bibir, baru mau dicium tangannya saja berkelit. “Belanja pagi memakai daster, mobil diklakson cuma mengangguk. Lihat adinda badan gemeter, diajak kelon malah ngamuk,” begitu pantun Gunoto melihat sikap janda Fatimah.

Kegarangan dan keliaran Fatimah memang hanya sementara. Ketika ditelateni terus, dia mau menerima Gunoto sebagai suami pengganti. Cuma, enak di Fatimah tapi tak enak bagi Asminah istri pertama. Dengan sangat terpaksa dia mau dimadu bersama Fatimah, tapi dengan syarat: Fatimah jangan lagi tinggal di samping rumahnya. Bikin ndeleng mata (pemandangan menyakitkan), begitu katanya.

Enak nggak enak, Gunoto memenuhi persyaratan itu. Setelah dinikahi, Fatimah dibuatkan rumah di Kebak Kramat. Sejak saat itu kehidupan poligamitor makin sumringah saja, ngetan-ngulon mandi junub melulu. Bosen di Pandeyan, pindah ke Kebak Kramat, begitu sebaliknya. Gunoto betul-betul bahagia, tapi sebetulnya Asminah sebagai istri pertama sangat menderita.

Paling celaka, setelah usianya 60 tahun kini, Gunoto tak lincah lagi cari rejeki, apa lagi dia mengutamakan bini mudanya. Maka kini hampir tiap hari Asminah ngajak ribut. Bila Aa Gym bisa damai dengan dua istrinya, Aa Gun malah perang melulu. Klimaksnya terjadi beberapa hari lalu, tahu-tahu Asminah ditemukan mati dengan penuh luka. Meski tersangka utamanya belum jelas, Gunoto yang menjadi sumber pertengkaran keluarga itu ditangkap polisi Mapolsek Tasikmadu.

Canda Membawa Petaka

Sepertinya yang punya bini cantik di Temanggung (Jateng) ini hanya Sukijan, 24 tahun, seorang. Hanya karena bininya dicanda, bukan digoda; dia sudah nyap-nyap tak keruan. Dan nasib apes itu menimpa Giyono, 40 tahun. Usai mengajak bercanda Ny. Taswilah, 22 tahun, di pinggir jalan, langsung dikirimi tusukan pisau oleh Sukijan.Keruan saja pedagang kain bekas keliling itu tewas seketika.

Istri cantik memang menjadi kebanggaan setiap lelaki. Sebab selain enak dipandang, juga asyik digoyang. Ibarat makanan, meski yang namanya nasi di mana saja rasanya sama, tapi bila disajikan di piring kembang, pasti menambah selera. Sebaliknya, biar rasanya rajalele atau Cianjur Istana itu nasi, bila tersaji di cowek gempil (cobek yang rusak) pastilah selera suami jadi ngedrop.

Taswilah bini Sukijan, rupanya begitu juga. Dia cukup cantik dikelasnya. Selain bodinya seksi menggiurkan, masih terhitung pengantin baru pula. Dengan demikian Sukijan sebagai suaminya masih punya semangat 45 yang menderu-deru. Cuma disayangkan, cantik-cantik begitu pekerjaannya hanya penjual keliling manisan buah. “Manis-manis buahnya, tapi lebih manis orangnya,?” begitu canda sejumlah lelaki.

Istri Sukijan sendiri tak pernah merasa janggal dan terbebani jadi penjual manisan buah, sebab kondisinya memang demikian. Idealnya wanita cantik macam dirinya memang hanya mamah dan mlumah, alias hanya makan dan melayani suami di ranjang. Tapi Sukijan kan hanya pekerja serabutan, sehingga penghasilannya tak menentu. Karenanya, demi keselamatan dan kelanggengan rumahtangganya, keduanya harus sama-sama memeras keringat.

Adalah Giyono, lelaki tetangga pasangan pengantin baru dari Desa Kalirejo Kecamatan Kledung ini. Karena sifatnya yang humoris, dia suka mencandai bini Sukijan. Tak sekadar kata-kata jenaka, tapi juga perilakunya agak kekonyol-konyolan. Misalnya, ketika Taswilah melintas dengan gendongan manisan buahnya, dia lalu melebarkan kedua kakinya, sementara tangannya ndaplang (menyilang), maksudnya menghadangi jalan Taswilah. Bila bini Sukijan ini kerepotan mencari celah jalan, Giyono pun terpingkal-pingkal.

Taswilah sendiri tak pernah merasa terganggu oleh canda dan guyonan tetangganya. Tapi bagi Sukijan yang pencemburu berat, itu sudah dianggap sebuah pelecehan seksual. Bagaimana kalau bininya syuting video adegan mesum macam Yahya Zaini-Maria Eva, apa dia tak semakin mencak-mencak. Bisa Sukijan membakar rumah orang, ngkali. Sifat sense of belonging (rasa memiliki) suami Taswilah ini memang kelewat over dosis.

Itu pula canda yang disuguhkan ke mata Sukijan beberapa hari lalu.Kembali Giyono menghadang-hadangi jalan saat Tasmilah hendak pergi jualan. Meski nampaknya dia diam saja, tapi batinnya meletup-letup. Dia sangat tersinggung akan ulah Giyono. Berani amat lelaki ini, bini orang yang begitu cantik kok dicandai kelewatan. “Tak bunuh kamu, baru rasa….,” begitu ancam Sukijan meniru Kadir pelawak Srimulat.

Kalau Kadir di teve hanya ancaman bohongan, tak pernah diwujudkan dalam karya nyata, beda lagi dengan si Sukijan. Dia benar-benar ingin membinasakan penjual kain bekas itu, sampai betul-betul jadi bekas manusia dan dipendem (ditanam) di kuburan. Maka sejak kejadian itu Sukijan merencanakan bagaimana cara terbaik membunuh Giyono. Pakai senjata biasa, apakah “dimunirkan” seperti tokoh HAM itu?

Apesnya Giyono tiba beberapa hari lalu. Baru saja pulang jualan, dia diberi tahu anaknya bahwa diminta datang ke rumah Sukijan. Tanpa curiga sedikitpun,Giyono terus menemui suami Tasmilah. Tak tahunya, begitu masuk ke dalam langsung dirangkul dan dadanya lalu ditusuk pisau jussss! Tentu saja tanpa sambat (merintih) Giyono tewas terkapar di rumah Sukijan. Menyaksikan musuhnya tak bernyawa, suami Tasmilah ini mencoba melarikan diri dengan naik bis jurusan Wonosobo.

Hanya saja warga tak semudah itu dibodohi. Polisi segera dikontak, dan bis jurusan Wonosobo pun digeledah. Maka baru sampai kota Temanggung Sukijan sudah tertangkap dan diaturi mandap (diminta turun) dengan paksa. Dia lalu digelandang ke Polres Temanggung. “Saya cemburu Pak, masak biniku dicanda-candai seperti itu,” kata Sukijan, sepertinya mencari legitimasi tindakannya yang brangasan.

Tukang Becak Ketagihan

Agaknya Busiri, 30 tahun, lelaki pecinta benda purbakala. Janda muda masih banyak, kenapa dia ngudag-udag (memburu) “nenek-nenek” usia 40 tahunan macam Yatni. Padahal, wanita pedagang nasi rames ini kelewat jual mahal. Bagaimana tidak? Ditakut-takuti dengan todongan pisau agar mau diajak kelonan, malah lapor polisi. Tentu saja si tukang becak ini jadi urusan polisi Polsek Kemangkon, Purbalingga (Jateng).

Tukang becak dari Desa Panican Kecamatan Kemangkon ini memang terlalu pede menjalani hidup. Penghasilannya sebagai tukang becak tak pernah cukup untuk membiayai keluarga, masih juga menjalani gaya hidup di jaman era gombalisasi, yakni: kumpul kebo. Wanita yang dipilihnya pun asal-asalan. Masih banyak janda muda seperti dikatakan KH. Zainudin MZ, eh…...dia malah memilih wanita 10 tahun lebih tua darinya.

Idealisme dan idola seseorang memang tak pernah sama. Boleh orang lain mengecam ketertarikan Busiri pada janda Yatni yang nenek-nenek, tapi tukang becak ini memang memiliki pertimbangan lain. Di samping urusan di “bawah perut” terjamin, bersama si penjual nasi rames kan dia bisa makan gratis. Jadi semuanya memang masih bicara seputar perutlah!

Kenyataannya memang demikian. Busiri merasa hidup makmur bersama janda Yatni. Bayangkan; capek habis nggenjot becak mencari sesuap nasi, mampir ke warung Ny. Yatni dia langsung bisa “nggenjot” pemilik warung. Capek bermesraan Busiri lalu tidur ngorok sebentar, ketika bangun nasi rames telah dihidangkan oleh rekanan kumpul kebonya. Apa nggak nikmat mupangat kehidupan ala Busiri ini?

Akan halnya Ny. Yatni sendiri, kadung senang hidup kumpul kebo bersama Busiri. Sebab jika hidup yang diburu sekedar “sate”, Busiri telah memberikannya secara melimpah. Jadi buat apa beli kambing segala? Pernah memang dia minta dikawin secara normal meski hanya siri, tapi Busiri tidak bersedia. “Buat apa surat itu, yang penting kan urat dan aurat…,” begitu jawab Busiri, namanya juga tukang becak!

Hal lain yang sangat ditakuti oleh Busiri, bila sampai ketahuan dia poligami, pastilah istrinya akan menangis. Belum ibu-ibu yang lain di Desa Panican tempat tinggalnya, pasti juga akan meneteskan air mata. Hanya bedanya di sini: bila ibu-ibu se-Indonesia menangisi Aa Gym karena kehilangan idolanya, ibu-ibu di Panican menangis karena kasihan, mau diberi makan apa anak istri Busiri yang tukang becak ini!

Sayangnya, Busiri sebagai rekanan kumpul kebo tak menyadari benar akan posisinya. Seperti pada istri sendiri saja, setiap dia membutuhkan kehangatan malam, harus dilayani kapan dia pengin. Tak peduli Yatni masih melayani pembeli, demi Busiri dia harus menutup warungnya. Soal habis kelonan buka warung lagi, nggak apa. “Yang penting demi Mas Bus, semanya ditutup. Lha wong demi Bush saja Kebun Raya Bogor bisa ditutup kok,” begitu alasannya.

Aksi model Busiri kembali terjadi beberapa hari lalu. Mungkin habis makan sate kambing atau bagaimana, datang-datang ke warung Ny. Yatni di Jalan Suprapto, tukang becak ini pengin “ngamuk”. Meski pemilik warung sedang sibuk melayani pembeli, diminta juga untuk segera menutup warungnya. Rupanya Busiri sudah kebelet. Dari yang njejeki (nyenggol kaki) sampai mencolek-colek pinggang Yatni sebagai kode, semua telah dilakukan.

Yatni sebetulnya senang-senang saja diajak berpadu kasih bersama Busiri. Tapi mestinya yang empan papan (ingat waktu dan tempat) dong. Masak masih banyak pelanggan warung mengajak begituan. Maka segala “rengekan” Busiri tak digubris, jadi persis majikan makan, kucing nyenggol-nyenggol kakinya karena minta dibagi “daging”. Baru setelah warung tutup Yatni meladeni rengekan Busiri. “Kalau sekarang, sampai bedug subuh juga saya ladeni,” kata Yatni sambil berkupas diri.

Akan tetapi Busiri sudah terlanjur kehilangan selera. Dari nafsu berubah jadi nesu (marah). Dia malah mengambil sabit dan diamang-amangkan ke kepala Yatni. Tentu saja perempuan itu ketakutan. Dengan pakaian seadanya dia lari kalang kabut minta tolong tetangga warung. Untungnya ketika warga datang Busiri sudah kabur duluan. Kalau tidak, bisa jadi dia babak belur dipukuli penduduk.

Namun persoalan tak terhenti sampai di sini. Yatni yang merasa trauma akan ancaman sabit Busiri, esok paginya melapor ke Polsek Kemangkon. Hari itu juga tukang becak yang gagal “nggenjot” itu ditangkap. Dalam pemeriksaan Busiri mengakui sudah biasa melakukan hubungan suami istri bersama Yatni di Jalan Persatuan, Purwokerto. “Lha pas saya butuh kok dia nolak, bagaimana saya tak marah, Pak?” kata Busiri.

Kan bisa mbanting pintu sebagai pelampiasan, Bleh…!

Selingkuh Dijadikan Solusi

Setiap keluarga pastilah pernah mengalami kejenuhan rumahtangga. Tapi sebagai solusinya apakah harus selingkuh macam Bardan, 40 tahun, dari Kemayoran (Jakarta Pusat) ini? Dengan alasan Mimin, 34 tahun, istrinya tak lagi menarik penampilannnya, dia malah kumpul kebo dengan gadis asal sekampungnya di Tegal sana . Tapi untuk kenekadannya tersebut Bardan harus membayar mahal. Dia diarak warga menuju Polsek nyaris hanya pakai kancut doang!

Istri Bardan yang bernama Mimin ini sebetulnya lumayan cantik di kelasnya. Dulu untuk mendapatkannya, Bardan harus jatuh bangun mengejarnya. Modalnya tak hanya membawa segenggam cinta, tapi juga muka badak segala. Akhirnya, karena melihat keseriusan sang perjaka, meski Bardan tak membawa bulan dan lautan ke pangkuan, Mimin pun bertekuk lutut dan berbuka paha untuk si tukang ojek.

Tapi sifat manusia memang pembosan. Segala sesuatu yang telah menjadi miliknya, jadi tak menarik lagi. Apa lagi Mimin setelah menjadi ibu rumahtangga, tak mau lagi bersolek. Badannya mekar lagi, sangat jauh beda dengan Bu Fatimah tetangganya, yang meski sudah beranak 4 tapi tetap langsing dan singset. Sayangnya kalau dinasihati agar mencontoh Bu Fatimah, jawab Mimin ketus. “Kawini saja dia, begitu saja kok repot!”.

Ironisnya pula, sudah gembrot Mimin tak bau wangi lagi, tapi beraroma asep dapur dan bawang merah. Jadi manakala Bardan mendekati bini dalam rangka “sunah rosul”, langsung drop duluan. Tadinya sudah bertegangan 200 volt, mendadak tinggal 110 volt, kelip keliiiip. Bardan sudah mencoba minum berbagai suplemen, tapi hasilnya tetap mendelep, seperti kamera digital kehabisan baterai.

Akibat kejenuhan yang berkepanjangan, Bardan pernah berencana kawin lagi. Tapi mengingat posisinya yang hanya tukang ojek, rasanya sulit membiayai dua istri. Kalau soal onderdil sih jagoan, tapi meteril? Lagi pula Bardan tak mau kehilangan citra. Dia tak mau ibu-ibu di Kepu Timur (Kemayoran) tempat tinggalnya pada menangis, sebagaimana para kaum ibu meratapi Aa Gym yang kawin lagi. “Padahal kami yang beda kan status, tapi soal napsu kaum lelaki sih sama saja…,” kata Bardan.

Tekad batin Bardan untuk mencari solusi kembali membara, ketika dia pulang kampung ke Slawi, Tegal, tempat asalnya. Di desanya sana , dia ketemu Kasmi, 35, tetangganya yang dalam status janda. Begitu ketemu kontan pendulumnya kontak. Sebab di matanya, janda teman main dari kecil itu ternyata demikian anggun. Wajahnya masih cantik, bodi dan kulitnya mirip Bu Fatimah tetangganya di Kepu Timur. Pendek kata, masih enak dikeloni dan perlu!

Ingat status Kasmi yang janda ditinggal mati, Bardan merasa dapat peluang. Orang lain pada buka dompet peduli Yogya, dompet peduli Pangandaran, biarlah si tukang ojek ini peduli “dompet” si janda. Tanpa memikirkan resikonya, Kasmi pun dipacari saja. Ternyata janda itu menanggapi. Maka solusi yang di rumah belum ditemukan, bersama Kasmi semuanya bisa. Sejak itu pula Bardan jadi rajin pulang kampung, sebab target intinya memang dalam rangka sporing balansing itu tadi.

Keseringan mondar-mandir Jakarta-Tegal, memang enak di entong tapi bobol di kantong. Karenanya diam-diam Kasmi lalu dicarikan rumah kontrakan di bilangan Senen. Di sinilah si tukang ojek ini memanjakan syahwatnya dengan sistem kumpul kebo berbasis selingkuh. Asal capek pulang narik seharian, malamnya langsung “narik” Kasmi di rumah kontrakannya. Setelah itu badan kembali bugar dan wajahpun sumringah.

Akan tetapi yang namanya istri punya naluri batin yang tak bisa dibohongi. Menyaksikan Bardan pulang kampung melulu, ditambah lagi tak memenuhi “kewajiban”-nya sebagai suami, Mimin curiga bahwa ada yang tak beres pada suaminya. Maka sekali tempo dibuntutilah ke mana Bardan pergi. Ee, ternyata dia masuk rumah kontrakan di Senen. Begitu diintip, ya ampuuuuun, suaminya sedang tumpang tindih dengan si janda rekanan kumpul kebonya.

Hati siapa yang tak mengkap-mengkap dibuatnya? Mimin pun lalu lapor pengurus RT dan diadakan penggerebegan bersama. Bardan pun tak bisa mungkir akan proyek kumpul kebonya. Dengan pakaian seadanya, nyaris hanya pakai kancut, Bardan dan Kasmi digiring ke Polsek Kemayoran. “Habis saya jenuh dengan biniku yang gembrot dan bau berambang, Pak…..,” kata Bardan di depan polisi.

Mau Kondangan Kok….?

Ribet ngkali ya, kondangan ngajak bini? Maka ketika istrinya, Ratih, 20, merengek-rengek mau ikut kondangan, Mujani, 25, warga Pengantin Ali Ciracas (Jaktim) ini jadi kalap. Bininya dihajar sampai jontor mulutnya, baru dia berangkat kondangan dengan pakai jas dan minyak wangi. Padahal sementara dia berhaha-hi di arena resepsi, di rumah istrinya sudah siap-siap lapor polisi.

Ini kisah istri manja, yang maunya ngekor ke mana saja suami pergi. Tapi hal ini terjadi bukan karena tanpa sebab-akibat.

Ny. Ratih tahu persis, suaminya memang suka main cewek, mentang-mentang ganteng macan Farhan presenter Anteve saja. Makanya bagi Ratih, tanpa kewaspadaan nasional dan pengawasan melekat ala Wapres Sudharmono dulu, Mujani suaminya ya bisa hewes-hewes bablas sungguhan!

Namanya juga suami yang ingin bebas merdeka tanpa tekanan pihak asing manapun, Mujani tak peduli dengan sikap proteks istri yang terlalu ketat. Seperti hari Minggu kemarin dulu, ketika ada undangan perkawinan rekannya, dia bermaksud jalan kondangan sendiri.

Bahkan rerasanan dengan istri bahwa mau menghadiri resepsi perkawinan, juga tidak. Agaknya bagi Mujani, istri sekadar pelengkap penderita!

Di gang depan rumahnya, Mujani sudah pakai jas lengkap, berdasi, sepatu mengkilat dan minyak wangi dari ketiak sampai selangkangan. Dia mondar-mandir selalu, mengawasi jalan raya, sepertinya menunggu seseorang.

Ketika istrinya bertanya, mau kondangan ke mana, dia menjawab ketus;Mau tau aja luh….,” sahutnya sambil mengawasi sesuatu di jalan raya.

Untuk kesekian kalinya Ratih terpaksa mencurigai suami ke perangai buruknya selama ini. Jangan-jangan dia sedang menunggu cewek yang mau ngampiri. Takut kecurigaan itu menjadi kenyataan, Ratih pun bertekad mau ikut kondangan.

Untuk mengimbangi suaminya yang ganteng, dia juga sudah siap dengan busana muslimah ala Inneke Kusherawati. Jilbab warna hijau muda, dipandu dengan baju dan bawahan yang sama-sama hijau tua, pasti cakep deh.

Akan tetapi niat Ratih pupus di tengah jalan. Soalnya Mujani bersikeras tak mau mengajak istrinya kondangan. Dia beralasan, seluruh temannya juga tak ada yang mengajak pasangannya. Ini acara khusus untuk kaum lelaki saja. “Udah, kamu di rumah saja.

Kalau butuh salad, nanti saya bawain, yang kol biru apa sawi kriting,” malah begitu ledek Mujani.

Tanpa menanggapi ledekan suami, Ratih langsung kembali ke rumah dan berdandan, pakai busana dan jilbab kesayangannya. Dengan langkah berjingkat-jingkat karena pakai hak tinggi, dia mendekati suami dengan penuh percaya diri.

Tapi tak tahunya, suami malah marah. Kata Mujani, mendingan tak jadi berangkat daripada dikintil sang bini.

Iring-iringan suami istri itu kembali ke rumah. Tapi setibanya di dalam langsung bininya dimaki-maki habis-habisan. Ratih pun tak mau kalah. Dengan kepergian kondangan yang mencurigakan, dia menuduh Mujani pasti mau selingkuh.

“Ala, kondangan segala buat alesan, abang mau selingkuh kan? Hayooo, ngaku saja,” tuduh wanita yang tahu persis tabiat suaminya selama ini.

Kalimat itu baru saja selesai, tangan Mujani langsung menyambar mulut istrinya, plakk! Ratih kaget sekali. Tak biasanya suami sekasar ini. Selama ini yang terjadi, mulut ya disambar dengan mulut, alias bermesraan. Lha kok sekarang teganya main tempeleng.

Bapaknya saja yang membesarkan dan membiayai tak pernah main tempeleng sama anak. Huuu, huuu, huuuu, begitu tangis Ratih melolong-lolong.

Akhirnya Mujani kehilangan selera untuk pergi kondangan. Tapi begitu istri nangis ungkep-ungkep di kamarnya, dia menyambar jasnya dan jadi juga berangkat kondangan dengan naik taksi.

Padahal, sementara dia berhaha-hihi dengan rekan dan koleganya di tempat resepsi, sang istri siang itu juga lapor ke Polsek Ciracas, minta agar Mujani ditangkap atas penganiayaan pada bini sendiri.

Halah, halah, Mujani. Bener kondangan, apa..kelonan?

Salah Perhitungan

Soal teori selingkuh, Hartadi, 25 tahun, lumayan juga. Kata dia menyelingkuhi janda lebih bahaya daripada menyelingkuhi bini orang. Alasannya, bila terjadi “kecelakaan”, janda akan menuntut nikah. Sebaliknya wanita bersuami, akan tenang-tenang saja, sebab sudah ada pemimpin redaksi dan penanggungjawabnya. Tapi ketika diaplikasikan di lapangan, justru Hartadi kena batunya. Sebab meski ada suami, Wiwik, 22 tahun, wanita yang diselingkuhi tetap menuntut tanggungjawab. Soalnya……

Ini gaya selingkuh dari kota gudeg, Yogyakarta. Hartadi yang tinggal di Sumberan Kecamatan Ngestiharjo Kabupaten Bantul, sedang bermain api. Soalnya, begitu banyak cewek cantik di Yogyakarta, justru dia tertarik pada Wiwik, yang statusnya sudah jadi istri orang. Di matanya, bini Atmadi, 30, itu begitu cantik mempesona. Dibawa jalan berdua gak ngisin-isini (bikin malu). Memiliki dia akan bahagia sepanjang masa.

Ternyata Wiwik sendiri sangat merespon gejolak jiwa Hartadi, sehingga ketika diajak ke mana saja oleh lelaki itu, dia tak keberatan. Maka pemuda lajang ini menjadi semakin berani. Salah satunya, ketika dibawa ke hotel Wiwik mau saja diajak hubungan intim sebagaimana layaknya suami istri. Bahkan sepertinya justru Wiwik sendiri yang selalu membuka peluang ke tindakan mesum tersebut.

Istri Atmadi pun diselingkuhi sepanjang ada waktu dan kesempatan. Kenapa Hartadi menjadi semakin berani? Soalnya sebagaimana telah disinggung di atas, katanya menyelingkuhi bini orang itu lebih aman. Logikanya, bila terjadi kehamilan, sudah ada yang mengakuisinya. Ibarat suratkabar begitu, sudah ada pemimpin redaksi dan penanggungjawabnya.

Awalnya mulus-mulus saja jalan serong asmara dua muda-mudi ini. Masuk keluar hotel hanya untuk melepas nafsu, sudah menjadi sebuah rutinitas. Siapa yang membiayai? Ya istri Atmadi sendiri. Lagi-lagi makin terbukti, Wiwik memang lebih membutuhkan praktek mesum yang tak pernah direstui undang-undang negara maupun agama itu. “Selingkuh itu kan selingan indah keluarga utuh,” begitu rumus yang dipakai Wiwik selama ini.

Tak kehitung berapa kali mereka menjalin hubungan intim, tahu-tahu perut Wiwik hamil. Bila merujuk pada teori Hartadi, tak perlu ada yang panik, sebab semua sudah diakomodir oleh Atmadi selaku suaminya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Wiwik terus mengejar Hartadi untuk menikahi dirinya. Dalam sebuah surat yang dikirim pada Hartadi, dia berjanji akan cerai dulu dari suaminya dan kemudin go public bersama Hartadi sebagai suami istri.

Ironisnya, Hartadi menganggap angina lalu permintaan Wiwik, karena dia tetap merujuk pada teorinya selama ini. Buat apa pusing-pusing cerai segala, toh sudah ada suami yang siap menjadi penanggungjawabnya. Wanita hamil ada suaminya kan sebuah keniscayaan, jadi apanya yang harus dikuatirkan? “Kalau sekedar nyepuh (memperkuat janin), ya hayoooo….,” kata Hartadi mau menang sendiri.

Kesal dengan jawaban Hartadi yang hanya seenaknya, Wiwik lalu mengajak bertemu doinya masuk hotel di Jalan Wahid Hasyim, Yogyakata. Karena dipikirnya bini Atmadi tersebut ngajak “nyepuh”, Hartadi pun semrintil (serta merta) memenuhi undangan itu. Dalam benaknya terbayang, kejadiannya ya seperti yang sudah-sudah, menuntaskan nafsu birahi yang bagi Wiwik nampak selalu kehausan.

Akan tetapi perkiraan itu meleset. Di sana tak ada acara “nyepuh-nyepuhan” segala, justru Wiwik mendesak Hartadi untuk segera menikahi. Segala alasan dan teori usang sidoi ditolak mentah-mentah. Mengingat usia kandungan makin gede, harus buru-buru diselesaikan. “Tahu nggak mas, kenapa aku menuntut kamu? Karena mas Atmadi ini lelaki impotent…..,” kata Wiwik buka kartu.

Hartadi bukan melunak, justru makin marah, karena dianggap Wiwik sengaja menjebak dirinya. Maka kekasih gelap itu lalu dihajar hingga tewas dan Hartadi pun ditangkap. Dalam sidang di PN Yogyakarta dia dituntut 6 tahun penjara. Bukti-buktinya cukup kuat bahwa pelakunya memang dia, sebab ditemukan juga konsep surat untuk Hartadi, yang berisi keluhan Wiwik atas kehamilannya.

Solusi Tangan Besi

Siapa orangnya tak jengkel, katanya istri kok berbulan-tak pernah diberi nafkah lahir batin. Giliran Jikem, 30, menuntut yang jadi haknya, Darso, 35, sebagai suaminya malah marah-marah dan main pukul. Cuma dalam mencari solusi dia menggunakan tangan besi. Bapaknya anak-anak itu diracun hingga wasalam.

Ini kisah klasik tentang suami yang mau menang sendiri. Dalam segala hal maunya di atas terus. Hubungan suami istri ambil posisi di atas, itu wajar. Tapi soal omongan pun Darso harus selalu diatas atau dimenangkan. Jika diberi tahu bininya tentang kebenaran, reaksi lelaki dari Wonosobo (Jateng) ini sangalah sinis. “Wong wedok kuwi ngertine apa (perempuan itu tahunya apa),” kata Darso.

Tampaknya lucu, tapi suatu kenyataan. Katanya suami istri, tapi tak pernah ada kemesraan di rumah. Pergi tanpa pamit, bagi Darso hal biasa. Tidur di rumah dengan ranjang masing-masing, bukan hal mengagetkan. Di tempat resepsi pun suami istri ini jalan sendiri-sendiri. Yang istri ke mana, yang suami entah ke mana. Masing-masing asyik sendiri.

Ingin Jikem meniru suami-suami istri yang lain. Jika menegur suami, dia suka menganalogikan dengan Ny. Fatimah tetangganya.
Di mata Ny. Jikem, mereka pasangan yang sempurna dan patut jadi teladan. Berangkat kerja selalu pamit, pulang telat selalu memberi tahu. Di tempat resepsi juga begitu, suami Ny. Fatimah selalu menempel ketat di belakang istrinya. “Kalu merpati, mereka kan sedang giring templek (sedang jodoh-jodohnya),” tangkis Darso tak mau kalah.

Acuh tak acuh Darso pada istrinya ternyata semakin berkepanjangan dan parah. Tak hanya jarang tidur bareng dalam seranjang, gaji bulanan yang selama ini dipasok ajeg, sudah beberapa bulan ini kosong melompong. Kalau ditanya ke mana saja uang penghasilannya selama ini, dia menjawab berbelit-belit. Uniknya, gaji tak diberi tapi Jikem harus masak lezat bagi suaminya.

Tak hanya nafkah lahir, nafkah batin atau “smack down” kemesraan juga jarang sekali diberikan. Istri sudah menyusul tidur di kamarnya dengan pakaian seronok, Darso tak juga bergeming. Dicolek-colek pun lelaki ini tak bergairah. “Pakai baju yang bener, nanti masuk angin lho,” malah begitu kata Darso sambil membetulkan letak baju sang istri.

Istri cap apapun pasti tak tahan diperlakukan demikian. Warga Desa Kalipuru Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo (Jateng) ini sekali waktu protes atas ketidak adilan itu, sebeb ujung-ujungnya memang sama-sama tak enak di kantong dan di entong. Tapi Darso bukan menyadari kesalahan lalu berbenah diri, justru dia jadi berang, lalu tempelengan pun mendarat di pipi bininya: pletakkkkk!

Kelanjutannya bisa diduga, Jikem menangis meraung-raung. Bila mengikuti emosi, dia ingin dikembalikan saka pada kedua orangtunya. Tapi keinginan tersebut segera diralatnya, mengingat enyak dan babe di kampung sudah tak punya lagi.Memangnya Jikem mau dikembalikan ke kuburan, tidur bersama jrangkong (tengkorak)?

Akibat Darso semakin masa bodo dengan rumahtangganya, Jikem jadi nekad ingi membinasakan suami ora kalap (tak berguna) tersebut. Ketika Darso mau minum kopi yang jadi kegemarannnya, diam-diam Jikem menaburkan bubuk apotas yang mematikan. Maka tak ayal lagi, begitu minum Darso pun wasalam. Buru-buru Jikem menguburkan, dengan alasan tak boleh lama-lama jenasah ditahan.

Hanya berjalan 3 bulan sandiwara Jikem berlangsung. Masalahnya ada warga yang menengarai kematian lelaki muda ini tidak wajar. Melalui surat kaleng dia melaor bahwa Darso mati tidak wajar. “Ada busa dari mulutnya, sepertinya dia diracun,” kata tetangga gelap itu dalam surat kalengnya. Ternyta benar, ketika diperiksa ulang kondisi jenasah,. Semuanya klop dengan laporan kaleng itu. Maka Ny. Jikem pun ditangkap dan mengaku telah meracuni suami pakai apotas.

Dicakar 'Meong' Tua

Sungguh asyik punya bini dua bisa "meong-meongan" kapan saja, berhalangan di sana, pindah kesini. Namun kebahagiaan Saman,40, berbini dua tak berlangsung lama. Ketika bongkar proyek poligaminya, Ny. Jumilah,37, istri pertama berkelakuan macam meong beneran. Suami habis dicakari, bini kedua alias madunya juga dilabrak di rumah kontrakkannya dan lalu di cakari pula. Meong, hrghherggggh!

Ini kisah suami yang poligami tapi tak bisa berlaku adil pada kedua istrinya. Padahal dalam Quran surat Annisa ayat 3 sudah di jelaskan, nikahi perempuan satu hingga empat, tapi kalau mampu. Kalau tidak mampu ya cukup satu saja. Lho, saya insya Allah mampu kok, "kata Saman setahun lalu ketika diberi gambaran oleh keluarga dekatnya tentang manfaat, nikamt dan mudlaratnay berbini lebih dari satu.

Tapi nyatanya, ketika diam-diam berpoligami, Saman tak mampu menjaga kredibilitasnya sebagai suami, Masalahnya itu tadi, kemampuan finansil tidak sejalan dengan kemampuan onderdil. Sejak berbini dua, jatah onderdil saja yang terus berkesinambungan. Tapi yang namanya materil, babak belur. Baiasanya gaji utuh diberikan Ny. Jumilah, kini dibagi pula untuk Heni,28. Padahal unutk ini pun Saman harus merangkai sejuta alasan.

Istri pertamanya tentu saja kelabakan. Gaji utuh saja tidak cukup untuk sebulan, kok sekarang malah di kurangi lagi. Asal diselediki kemana larinya uang tersebut, Saman bilang dikirim keluarganya di kampung. Ini alasan paling gampang dan aman, sebab tak mungkin Jumilah mengeceknya kesana. Nanti salah-salah malah merusak citra istri Saman sendiri. "Pelit banget tuh Jamilah, suami ngirim duit ke kampung saja diusut," pastilah orang-orang di desa.

Akal bulus Saman untuk sementara berhasil. Dia hidup dengan tenang bersama kedua istrinya. Urusan ranjang juga sangat terjamin, istilah kata tak ada hari prei. Bini tua berhalangan misalnya, ddia bisa pindah kebini muda. Sebaliknya bila Heni halangan, dia bisa menjalankan sunah rosul bersama Jamilah. Pendek kata semenjak punya dua bini Saman badannya juga bertambah bersih saja lantaran mandi junub melulu!

Tiga bulan hingga enam bulan, Saman masih bisa belaku adail menurut versinya, Baik istri muda dan istri tua selalu di kunjungi. Hanya saja, bila waktu untuk Jamilah bisa lebih lama lengkap dengan paket nginepnya, untuk Heni waktunya seperlunya saja. Datang sore hari sepulang kerja paling hanya 1-2 jam. habis dikasih minum, lalu nyetrum, langsung pulang ke bini tua sebagai pangkalan utamanya.

Ilmu "Kucing-kucingan"Saman harus di pertahankan terus, karena selama ini dia selalu menyembunyikan status poligaminya. Dan sejak punya dua bini, dia memang menjadi juara bohong tingkat Jakarta Barat. Sebab kalau tidak bohong rahasianya pasti terbongkar. Padahal sekali berbohong Saman akan berbohong selamanya.

Kebohongan dan kepoligamian Saman terungkap ketika tetangga yang memergoki dia jalan dengan Heni. meski tetangga itu tidak menegur dengan alasan menyelamatkan diri dari muka umum, tak urung informasi itu sampai juga ke Jamilah istri pertama. Akibatnya bisa di tebak, ketika tiba di rumah Saman di adili. Uniknya, meski akhirnya mengaku dia tidak menyebut nama dan dimana rumah istri keduanya, "Ini semua demi stabilitas keluarga kita, Ma,"Kata Saman sok gaya pejabat.

Akal perempuan memang banyak, Justru larangan suami itu membuat Jamilahmakin penasaran. Bagai bak dektektif
dia berhasil menemukan nomor HP istri kedua Saman. Mulailah wanita itu diteror lewat SMS, isinya: bila tak minta cerai, akan di bunuh. Lebih-lebih setelah temukan alamatnya di Cengkareng Timur, makin rajinlah Jamilaj meneror Heni. Bahkan pernah pula di labrak tapi tak ketemu.

Heni pun mengadu pada suaminya, dan Saman ganti menegur istrinya. Tapi akibatnya fatal, Jamilah marah dan suaminya di cakar habis. Setelah itu ia pergi mendatangi madunya itu, kembali ia main cakar di sana. Betul-betul istri Samanseperti kucing, main cakar dan menggeram macam kucing rebutan belung. Balungnya Saman, tentunya.

Cintanya Amblas di Kampung

Ati-ati kalau ningggal bini terlalu lama di kampung, bisa digondol lelaki lain, lho! Lihat pengalaman Sujarna, 30 tahun, dari Cirebon ini. Dia sibuk kerja membanting tulang di Ibukota, di kampung istrinya malah banting-bantingan dengan Parta, 26 tahun, pemuda tetangga. Ketika suami pulang untuk klarifikasi, Tasmi malah menantang: aku sudah tak cinta lagi sama kamu, ceraikan saja aku!

Ketika bumi kampung halaman tak lagi menjanjikan untuk memberi hidup, ke mana lagi orang mengais rejeki, jika tak ke Jakarta ibukota Negara? Dan itu pula yang dilakukan Sujarna, warga desa Kesunian Selatan, Cirebon. Dia merantau ke Ibukota, untuk bekerja di sektor informal.Demi meraih masa depan, dia harus rela meninggalkan bininya yang cantik itu secara priodik.

Untuk kembali ketemu istri, Sujarna hanya ada waktu 3 bulan sekali.Bayangkan betapa rindu dan kangennya lelaki ini. Lelaki yang lain tak ketemu istri seminggu saja sudah pusing, dia harus gencatan senjata 12 minggu rata-rata. Apa nggak jadi kemenyan? Untung Sujarna punya kiat untuk mengantisipasi rasa kangennya itu.Bantal bulukan yang selama ini dibuat tidur berdua, selalu menemaninya di perantauan.

Masa-masa muda memang masa yang indah, begitu kata penyanyi Koesplus. Tapi Tasmi yang notabene masih pengantin baru, tak bias menikmati secara wajar. Ibarat tanaman yang hanya disiram tiga bulan sekali, lama-lama pasti juga gersang. Ini pula yang dialami bini Sujarna. Ketemu suami hanya tiga bulan sekali, sungguh membuat dia kesepian dan kesepian.

Untuk ukuran secara umum, Tasmi ini memang wanita yang cukup cantik di kelasnya. Kulitnya yang putih bersih, betisnya yang mbunting padi, menambah gairah lelaki normal untuk menatapnya. Orang yang belum kenal siapa dia, suka bertanya-tanya takjub. Bini siapa tuh, gila, cakep amat. Berbahagialah yang jadi suaminya, begitu kata orang sambil jakunnnya turun naik.

Di antara lelaki yang terkagum-kagum tersebut adalah Parta pemuda lain RT. Dia memang suka memperhatikan ketika Tasmi melenggang di pagi hari habis belanja di tukang sayur. Meski hanya pakai daster dan sedikit berkerudung, tapi penampilannya sungguh memukau. Ingin dia sebetulnya mendekati, tapi kata sumber yang layak dipercaya, Tasmi sudah punya suami, meki hanya 3 bulan sekali dia baru disambangi.

Ini info yang sangat menarik. Sebab menurut teori ilmu asmara karya Don Yuan, wanita jauh suami berpeluang emas untuk didekati. Tinggal bagaimana mengatur menegement pendekatan berbasis selingkuh itu. Kalau sukses, dia pasti akan lengket seperti perangko, begitu kata teori dalam bukunya Don Yuan dengan kata pengantar jin Iprit tersebut.

Kesempatan emas ini benar-benar dimanfaatkan Parta. Mau berangkat atau pulang belanja dia suka menggodai Tasmi. Dan ternyata benar, bini Sujarna ini membuka hati untuknya. Bahkan ketika ketemu dalam sebuah angkot, Tasmi mau dibelokkan dari tujuan sebenarnya. Tadinya mau ke Pasar Gunungsari, malah mau diajak jalan-jalan tanpa tujuan bersama Parta. Padahal selama di angkot, nyaris luluh lantak jari-jemari Tasmi diremas-remasnya.

Yang namanya wanita, kalau sudah mau diajak jalan bareng pasti mudah untuk ke sononya. Begitu pula dengan Tasmi, lain hari dia berhasil diajak jalan lagi oleh Parta dan kemudian di bawa ke sebuah hotel. Di sinilah semuanya terjadi. Jatah menu yang biasanya diberikan untuk Sujarna tiga bulan sekali, hari itu diborong habis oleh Parta. Ternyata Tasmi memang sangat menikmati. Mari kita smack down terus sampai tua. kata Tasmi, ada sejuta kepuasan di matanya.

Akibat gulat-gulat asmara tersebut, keduanya menjadi ketagihan. Asal ada peluang keduanya lalu berbagi cinta di hotel. Sampai lama-lama hal itu menjadi rahasia umum di tetangga kanan kiri. Warga yang masih menyayangi dan menghormati keluarga Sujarna, buru-buru kirim kabar ke Jakarta agar suami Tasmi pulang untuk menertibkan kelakuan bininya tersebut.

Namun Tasmi sudah kadung jadi peselingkuh berdarah dingin. Ketika Sujarna kembali ke desa dan klarifikasi kabar pengkhianatan cinta tersebut, Tasmi mengakui saja terus terang. Bahkan katanya, sudah lama jalinan asmara di bawah tanah itu bersemi. Aku sudah tidak cinta sama kamu, ceraikan aku sekarang juga, kata Tasmi. Sujarna yang kebingungan hanya bisa membawa persoalan ini ke polisi. Bersama rekanan selingkuhnya Tasmi diperiksa di Polresta Cirebon.

Kawinin saja, kawinin.! Eh, tapi ceraian dulu dong!

Berebut Daging dan Cinta WTS

Sebagai WTS agaknya kecantikan Parni, 20, selangit. Buktinya Nardi - Wahyu sampai berani bacok-bacokan demi "daging" tak lebih dari seperempat kilogram itu. Cuma karena Nardi jauh lebih muda dan perkasa, Wahyulah yang terkapar kena bacokan. Yang repot tentu saja polisi Polsek Bawen. Dagingnya tak kebagian mereka harus repot mengantar hidung belang muda itu ke RSU Ambarawa.

Antara Nardi, 22, dan Wahyudi, 27, sebetulnya sudah lama berkenalan, karena keduanya sama-sama tinggal di Desa Harjosari Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Tapi belakangan keduanya jadi bermusuhan, bagaikan kucing ketemu anjing. Apa yang jadi penyebabnya, ternyata hanya urusan cewek. Mereka bersaing memperebutkan cinta dan daging Parni, persis Indonesia-Malaysia dulu, ketika berebut pulau Ligitan.

Yang bikin orang terheran-heran, apa sih kelebihan Parni sehingga keduanya “jatuh bangun aku mengejarmu” seperti Megi Z saja. Soalnya, semua orang tahu bahwa wanita yang tinggal di Kompleks Tegal Panas itu sudah terlanjur jadi milik publik. Asal ada uang, siapa saja boleh bawa. Memang, Parni tak lebih seorang WTS di komplek pelacuran tersebut.

Agaknya pelayanan Parni lah yang membuat mereka sukar melepaskannya. Di ranjang, PSK satu ini memang punya daya cengkeram luar biasa macam ban Goodyear. Dia bisa melayani permintaan dan gaya apa saja. Baik Wahyudi maupun Nardi, asal sudah kena servis Parni, jadi merem melek dan lali purwaduksina (lupa segalanya). Lucunya, meski mereka sama-sama sering pakai, awalnya tak tahu bahwa sudah sekian lama ikut proyek Salome (satu lobang rame-rame).

Nardi baru sadar kalau Parni langganan Wahyudi, ketika WTS itu curhat tentang lelaki dari Harjosari yang cengkiling atau suka main pukul. Begitu sebut nama dan ciri-ciri, ternyata Wahyudi itu adalah tetangganya sendiri. "Trembelane, ternyata kita sama-sama putra daerah…," kata Nardi agak malu-malu.

Keluhan dan curhat Parni ternyata membuat Nardi prihatin dan simpati. Di lembah hatinya yang sangat dalam, dia tak rela bila WTS yang sudah terlanjur dicintainya itu disia-siakan oleh lelaki lain macam Wahyudi. Bagi Nardi, Parni adalah sosok wanita yang perlu disayang sekaligus digoyang. Di samping wanita itu dia merasa bahagia, di atas perempuan itu pula Nardi merasa berada di surga dunia.

Ada tradisi dan filusufi Jawa yang mengatakan: sadumuk batuk sanyari bumi. Artinya bahwa urusan perempuan harus dibela sampai mati. Berangkat dari soal itulah Nardi ingin menjaga martabat dan "martabak" kekasihnya dari kesewenang-wenangan lelaki lain. Nardi ingin Wahyudi menjaga dan memperlakukan Parni secara baik-baik sebagaimana dirinya. "Saudaraku, kita kan sama-sama sekampung dan satu sarung, betul tidaaaak", batin Nardi saat merancang kata-kata bagi Wahyudi tetangganya.

Tak menunggu hari lain, Nardi segera mencari Wahyudi. Bak seorang penganjur kebajikan, Nardi lalu menasihati tetangganya tersebut agar memperlakukan Parni secara manusiawi. Jika sudah tidak sayang sama dia, terus terang saja, karena Nardi siap merawat WTS itu secara baik-baik, bermartabat dan bebas dari pelanggaran HAM. Dan maukah lelaki itu menerima segala nasihat Nardi? Ternyata tidak!

Ihik, ihik, mau tertawa Wahyudi mendengar ceramah anak kemarin sore, yang buat kencing saja belum lempeng. Oleh karenanya dia terus saja nggebuk dan "nuthuk" Parni. Jika pelayanan wanita itu tak memuaskan, pukulan dan tinjunya mendarat. Tinggalah Parni menangis. "Dasar lelaki, asal sudah dilayani langsung ngorok dan main tonjok," kata Parni sekali waktu.

Kembali dia mengadu pada Nardi. Lagi-lagi mendengar tangisan kekasihnya, sehingga batas kesabarannya pun habis. Dia segera mengasah golok dan kemudian dibawa pergi untuk mencari Wahyudi. Pikir Nardi, kalau bisa dinasihati baik-baik, sukurlah. Kalau tidak, golok yang konon pernah makan korban pendita sanga itu siap pula memakan Wahyudi.

Agaknya Wahyudi tetap tak bisa menerima nasihat Nardi. Keduanya pun lalu berantem, saling pukul dan gebuk. Tak sabar lagi atas kelakuan rivalnya, Nardi mengambil golok di balik punggungnya. Dengan target untuk sekadar memberi pelajaran, bagian punggung golok tersebut lalu digetokkan ke kepala Wahyudi, pletakkk. Tak sampai mati, kecuali hanya luka-luka. Namun demikian Wahyudi segera lapor polisi dan Nardi pun ditangkap.

Hanya soal perempuan kok berantem. Lha mbok sudah, dikeloni bareng!

Iseng Bikin Puyeng

Selingkuh kalau hanya mikir enaknya tanpa memikirkan akibatnya, ya begini ini. Samijan, 40 tahun, jadi urusan Polres Purbalingga (Jateng) karena tega membunuh janda Tarmi, 34 tahun, yang dihamilinya. Tinggalah dia meratapi nasib di tembok dingin, sementara anak istrinya di rumah jadi korban kebengalan Samijan selaku kepala keluarga.

Ini sebetulnya kisah yang terlalu klasik, ketika seorang lelaki jatuh cinta pada janda tetangga sendiri. Apa lagi ketemu modelnya Samijan, warga Desa Limbasari Kecamatan Bobotsari. Dia memang paling gatel tangannya setiap melihat cewek cantik nganggur pula. Maka tak peduli di rumah ada anak istri, dia mencoba menelateninya. “Eh siapa tahu nyangkut,” begitu prinsipnya seperti tanpa beban.

Tarmi randa kempling (janda muda) yang tinggal selang beberapa rumah dari Samijan, memang sudah beberapa tahun lamanya menjalani hidup solo kerier. Entah kenapa dia tak buru-buru membangun hidup baru lagi. Padahal wanita model Tarmi tersebut sangat banyak permintaan. Begitu dilepas di pasaran pasti ludes diserbu konsumen.

Iseng-iseng Samijan mendekati, tanya kenapa membiarkan berlama-lama dalam kesendirian. Apa ora ngeman awak (sayang pada dirinya), atas kelebihan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Tak baik terlalu lama menjanda. Apa lagi kata pemain ludruk Surabaya, dadi randha ngentekna klasa (jadi janda menghabiskan tikar). “Njaluk tak openi pa piye (minta saya yang ngurus, bagaimana),” kata Samijan, namanya juga iseng.

Akan tetapi jawab Tarmi lain lagi. Meski jadi janda, dia tak merasa gatel-gatel amat. Mengingat keberadaannnya kini akibat perceraian, dia harus selektif mencari suami pengganti. Tarmi tak mau lagi ketemu pria yang sekaliber dan karakter suaminya dulu, yang hanya doyan kelon tapi tak mau cari klepon. Dia sudah kapok punya suami yang hanya petentang petentang adol bagus (jual tampang).

Tapi alasan Tarmi yang demikian tak menyurutkan niat Samijan untuk mendekati dan mengisengi. Soalnya lelaki beranak empat ini punya analogi sendiri. Ibarat rokok, bagi yang belum pernah menikmati, seumur hidup tak kena tembako yang tenang-tenang saja. Tapi bagi yang pernah menikmati betapa nikmatnya rokok, lama tak ketemu gudang garam atau jisamsu, pasti ketagihan.

Inilah saatnya mempersembahkan “jisamsu” yang bebas tart dan nekotin, begitu pikir Samijan. Maka setiap peluang ada, dia mencoba merayu-rayu si randa kempling. Dari yang main colek hingga main cemol pantat. Dan karena Tarmi tak pernah protes serius, Samijan pun jadi semakin nekad. Sekali waktu ketika janda STNK itu di rumah sendirian, langsung disergap dan kena “jisamsu” dia punya.

Kejadian itu ternyata terus berlanjut. Tarmi yang semula menyatakan jadi janda tak gatel-gatel amat, lain waktu ketika disosor Samijan pasrah saja. Maka akhirnya ya menjadi sebuah rutinitas. Tanpa klepon, dia sudah mau diajak kelon. Bahkan entah pada hubungan intim yang ke berapa, tahu-tahu perut Tarmi menggelembung mengandung unsur janin.

Adegan mesum kembali terjadi beberapa hari lalu. Namun begitu selesai berbuat Tarmi berkisah tentang kondisi perutnya. Celakanya, Samijan tak mau tanggungjawab dengan alasan berat keluarga. Ketika Tarmi terus merengek, lelaki ini jadi panik. Janda selingkuhan tersebut langsung dibekap pakai celana, sampai kehabisan napas dan tewas. Habis itu mayatnya dibuang ke sumur dengan alasan agar dikira bunuh diri.

Hanya saja Samijan lupa, polisi tak sebodoh itu dikadali. Demi ditemukan mayatnya dalam kondisi mencurigakan, polisi lalu menyisir semua teman dekat Tarmi. Samijan pun diperiksa dan diinterogasi. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, lelaki iseng itu tak bisa mengelak lagi sebagai pembunuhnya. “Habis saya tak siap punya dua bini, Pak,” kata Samijan yang sedang puyeng, seakan menyesali keisengannya.

“Dismackdown” Dukun Cabul

Rencana mengobatkan anaknya yang sakit malah jadi malapetaka bagi keluarga Samiun, 50 tahun, dari Cilegon (Banten) ini. Kenapa demikian? Akibat terlalu percaya pada seorang dukun, keperawanan Irma, 18, putrinya jadi amblas. Maklum, dukun Zaini, 60, memang bukan dukun professional, tapi hanya dukun cabul.

Irma anak semata wayang keluarga Samiun, warga Merak. Entah kenapa, beberapa bulan belakangan ini dia menderita penyakit aneh, bukan jenis Flu Burung bukan pula cikungunya. Sudah dibawa ke dokter Puskesmas segala, tapi tak ada perubahan. Irma tetap menderita sakit, tak bisa tidur, badan pucat, dan lemas. Wajar bila keluarga Samiun sangat mencemaskan putrinya.

Namun kecemasan keluarga Samiun tak perlu berlangsung lama, demi mendengar kabar bahwa di Desa Mekarsari Kecamatan Merak, ada dukun pintar. Tarif sangat kompetitif, dan kebanyakan pasien yang ke sana pasti berhasil disembuhkan. “Daripada buang-buang duit ke dokter yang tak ada hasilnya, mendingan dibawa saja ke dukun Zaini,” begitu saran pemberi info.

Demi kesembuhan putrinya dari penyakit misterius, Ny. Samiun membawa Irma ke dukun Zaini. Celakanya, biar katanya sedang sakit, tapi pancaran sinar kecantikan gadis itu tak juga redup. Lebih celaka lagi, dia ketemu dukun tua yang masih bersemangat muda. Buktinya, begitu melihat Irma, pendulum Zaini langsung kontak blip, blip….!

Umumnya dukun professional, setelah menerima keluhan pasien kan segera mencari obat yang tepat untuk penyembuhannya. Tapi karena Zaini memang hanya dukun cabul berbasis pornoaksi, begitu mendengar keluhan Irma dia malah memikirkan bagaimana bisa mengadali gadis cantik nan montok tersebut. “Nek digoyang serrrr, aduh penake,” begitu kata dukun Zaini yang tiba-tiba ingat lagunya Didi Kempot.

Bodi dan penampilan Irma memang membuat abah dukun jadi salah tingkah. Dengan mengatasnamakan penyembuhan, dia hanya minta disediakan dua buah jeruk nipis segar dan uang Rp 50.000,- gambar I Gusti Ngurah Rai. Dengan persyaratan tersebut dukun Zaini menjamin akan segera membuang segala penyakit di tubuh Irma.

Eloknya , Ny . Samiun selaku ibunya dilarang keras melihat terapi pengobatan atas putrinya itu. Malah dia disarankan pulang saja, yang penting putrinya nanti kembali telah sembuh. Padahal begitu sang ibu pergi, korden ditutup segera. “Aha, anakmu nanti bakalan tak “smack down” sampai KO,” begitu kata batin dukun cabul.

Zaini segera melaksanakan apa yang menjadi hajat sebenarnya. Irma diperintahkan melepas seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat. Habis itu lalu disosor bagian bibir, gunung kembar Gede-Pangrango, dan terakhir di daerah rahasianya. Sebetulnya Irma menolak, tapi tahu-tahu dia sudah di “smack down” alias digulat bohong-bohongan, tapi dengan nafsu sungguhan.

Usaha dukun cabul menggarap pasiennya berlangsung mulus. Tapi karena Irma memang tidak siap untuk itu, dia menjerit dan menangis atas perkosaan dirinya. Tapi dukun Zaini tak peduli, putri Ny. Samiun itu terus saja “dismack down”, diengkuk-engkuk sesuka-suka si dukun cabul.
Kekakawitan Ny . Semaun memang terasa sejak dia berangkat pulang. Maka bersama suaminya dia kembali ke rumah dukun Zaini. Benar saja, begitu dia tiba telah mendngar jeritan putrinya. Ny. Samiun dan suaminya segera mendobrak pintu. “Keluar kalian, mau tak santet apa?” ancam dukun Zaini sambil membetulkan kolornya.

Meski diancam keluarga Samiun sama sekali tak takut, apa lagi demi melihat Irma semakin murung dan parah penyakitnya. Sambil menuntun putrinya mereka menuju ke Polsek Merak, mengadukan kelakuan dukun Zaini. Hari itu juga kakek cabul itu ditangkap dan dijebloskan ke sel polisi.
Untuk giliranmu, “dismack down” polisi bila menjawab pertanyaan berbelit.